IndonesiaMember since 12 May 17Last online 3 months ago

  • Leyla Fajr
    3 months agoReply
    Chapter 1

    Dibumi, Aku punya ladang.
    Dulunya aneka tanaman menghias di atas permadani hijau. Anginpun selalu mesra membelai suasana.
    Hingga air bergemercik terjun ke ngaraipun ku reguk demi dahaga yang bergelora.

    Suatu pagi di tengah tragedi riuhnya badai telah menebar hama. Ternyata anginku ribut, berkhianat dibelakangku. Hingga Satu persatu tanamanku menguning layu dan mati. Permadani ku itu bagai dimakan api.

    Setiap kali menengok ladang? aku berhenti merasa bangga.
    Aku berhenti mempercayai angin.
    Aku berhenti mereguk ngarai.
    Seolah aku frustasi atau lebih tepatnya patah hati. Ku pikir ladang ini ialah kepunyaanku. Lantas marah pada segala hal yang merenggut hak kepemilikanku. Huh...Aku bicara hak kala itu.
    Aku lupa bahwa aku hanyalah seorang pengolah ladang yang bekerja pada "Sang Penyedia alam" yang hakNya pun lalai ku penuhi. Ada "Upeti" yang musti ku bayar sebagai tanda aku hanyalah menjalankan kontrak di atas kertas putih.

    Merasa sendiri aku termangu, pada ladang yang ku pijak aku menahan tangis. Membungkal di dasar hati hingga sesak demi sesak menghimpit akalku.

    Pada garis yang di arsir ini aku melanjutkan langkah, ladang tak lain hanya tempat ku "menuai".

    Begitulah hidupku. Sebelum aku sampai di usia 24 tahun, bilangan tahun bagaikan puncak gunung yang menantang sekaligus melelahkan bagiku. Tapi ternyata disinilah ladang pengetahuanku yang akhirnya membuatku mengerti pada tembakan perubahan dalam setiap garis hidup yang sudah ditentukan.

    Pada tahun itu aku kembali terlahir dalam lembaran kosong kitab "keberadaan".
    Pada tahun itu kulihat malaikat-malaikat disurga menatapku melalui sorot mata wanita cantik yang melahirkanku. Ku lihat juga gerombolan setan mengamuk di jantung beberapa orang dengan sangat mengerikan.

    Baru ku tau satu hal. Dia yang tak pandai membedakan antara setan dan malaikat dalam putaran kebencian dan keindahan akan jauh dari pengetahuan dan jalan kasih sayang.












    Chapter 2


    Sendiri itu unik. Ada kelembutan di tangan yang terlihat halus . Namun dibaliknya ada jari-jari kokoh sebagai penggenggam rasa sakit dan kesedihan.

    Jika kesendirian adalah sekutu dari sedih dan sepi, maka jalan terbaik bagiku adalah berdamai.

    Jadi, aku mulai mengadakan perundingan untuk mencapai kesepakatan "damai" terhadap musuh yang menjajahku.
    Tak lain, musuh ku itu ada di dalam diriku.

    Meski ,
    Entah kenapa, setiap kali aku menatap langit tinggi aku merasa hatiku terikat. Enggan melepas pandanganku.
    Setiap ku dengar ocehan burung dan nyanyian kembang yang merekar aku merasa sedih dan menderita .
    Ku cari alasan penderitaanku, barangkali lembaran sabda Kekasihku itu mampu bercerita banyak.
    Lantas, ku temukan alasan .
    Di surat cinta kekasihku dikatakan bahwa dunia mampu menjadikan pria yang hatinya kosong menjadi periang!

    Mungkin kekasihku itu bicara tentang mereka yang berjalan sebagaimana mayat hidup.

    Berbeda halnya dengan beberapa pria yang kulihat sensitif dan pendiam. Merekalah mahluk tangguh dan matang yang hatinya tak pernah kosong dari sebuah "nama".
    Mereka pasti pernah dirobek dua kekuatan.
    kekuatan yang mengangkatnya tinggi ke awan, Dan kekuatan yang mengikatnya di bumi sampai menimbun debu pada matanya hinga gelap.

    Jiwa mereka mengalami hentakan kesedihan sebagaimana bunga yang gemetar saat angin membuka helai daunnya. Hingga satu "nama" yang hanya dikenali memenuhi relung hatinya. Tak ada tempat lagi bagi "dunia" bertahta disana. "Nama" itu membuat mereka tangguh.

    Dan aku...tak ingin menjadi debu.
    Tak ingin menjadi kepingan mimpi bagi mereka pria-pria tangguh itu.
    Meski kala itu,
    Aku tak lebih dari jaring laba-laba dan serangga yang merangkak di rerumputan tandus.



    Chapter 3

    Obsesi duka di masa mudaku bukanlah karena kurang piknik dan kekurangan teman.

    Aku bisa berkelana ke manapun tempat di bumi yang berbau wisata.
    Aku bisa menemukan banyak teman dari timur hingga ke barat, pria dan wanita, tua ataupun muda, yang kaya dan yang fakir, yang hitam dan yang putih.

    Tidak...bukan karena itu.

    Aku berduka karena sakit batin yang ku derita. Menyudutkanku dalam kecintaan rasa
Loading ...