Untold Story

Love-Hate Relationship

0Likes
0Comments
418Views

1. Satu

 “Lagi ?”

Suara nyaring khas Mamah menyerang gendang telinga Sonya yang duduk terkulai di ranjang kasurnya. Bayangan gelap mengitari kelopak matanya yang bulat. Wajahnya lusuh dan kusam persis gelandangan yang tidak mandi berminggu-minggu.

Sonya mengangkat wajahnya kemudian mengintip dari balik rambutnya yang mengembang tidak karuan. “Mah, sudahlaah. Aku masih ingin istirahat.”

“Mana mungkin mamah bisa tenang, putri mamah sudah disekap berkali-kali dan kamu minta mamah diam saja ?” Mamah menyilangkan tangannya di depan dada lalu melanjutkan dengan nada tinggi. “Kau harus menyerah. Berhentilah”

Sonya menggenggam salah satu lengan Mamahnya sambil menggeleng cepat. “Mah, jangan begitu. Lihatlah, aku baik-baik saja. Mamah hanya membesar-besarkan masalah.”

“Bagian mana yang menurutmu masalah kecil ? Ditodong bambu runcing saat meneliti sengketa tanah ? Atau disekap oleh sindikat narkoba, pembunuh bayaran, dan teroris ?”

“Tapi kan aku sudah bebas. Dan aku baik-baik saja sekarang. Jadi, mamah tidak usah terlalu mencemaskanku.”

“Lalu bagaimana jika hal itu terulang lagi dan kau tidak bisa kembali pulang ? Kau ingin membuat mamahmu terkena serangan jantung, hah ?”

Sonya menyenderkan kepalanya di pinggang Mamah. Kali ini suaranya terdengar melembut. “Mah, jangan berkata seperti itu. Aku kan masih ingin pulang dan bertemu dengan Mamah.”

Mamah kemudian menjatuhkan diri di sebelah Sonya. Matanya yang memancarkan keseriusan ditujukan kepada Sonya yang masih berusaha meluluhkan hatinya. “Berhentilah. Kau bisa menjadi pegawai biasa tapi kenapa harus menjadi peneliti ? Lihat kakakmu Sonia. Hidupnya terjamin bekerja menjadi reporter.”

“Bukankah sama saja ? Dia pasti juga akan turun lapangan juga. Sudahlah Mah, jangan bandingkan aku dengannya. Aku tidak akan berhenti.”

Sonya menarik selimut dan menutupi seluruh wajahnya. Dalam benaknya, ia memikirkan ucapan Mamah tentang Sonia, saudara kembarnya. Walaupun fisik mereka hampir sangat mirip, pada kenyataannya nasib mereka berbeda jauh. Sonia dilahirkan lebih beruntung darinya, lebih cerdas dan lebih banyak mempunyai kesempatan. Ternyata status kembar tidak bisa menjamin takdir dan keberuntungan juga akan datang bersamaan.

Segera setelah lulus kuliah, Sonia direkrut oleh RGTV menjadi reporter. Kemungkinan tahun depan ia sudah bisa muncul sebagai pembawa berita. Ia sudah dipercaya oleh para staff redaksi bahkan sejak sebelum lulus.

Sonya ? Adik kembaran Sonia. Berbanding terbalik dengan Sonia yang super sempurna, Sonya hanya berada di garis pas-pasan. Mimpinya sejak kecil menjadi mata-mata rahasia, tapi berhubung mimpinya agak tidak masuk akal jadi ia beralih menjadi seorang peneliti. Baginya, menguak kebenaran adalah tugas yang luar biasa menantang.

***

“Kau tidak apa-apa ? Seharusnya kau tidak usah berangkat hari ini.” Gadis berambut pendek dan berkacamata mendekati Sonya dengan wajah khawatir. “Aku dengar kau kemarin disekap di geladak kapal oleh para pembelot, benarkah?”

Sonya mengangguk lemah. Lengannya masih terasa pegal efek ikatan tali yang terlalu kencang saat disekap beberapa hari yang lalu. Tapi tidak ada alasan yang tepat baginya untuk bolos bekerja. “Aku tidak apa-apa, Lila.”

“Tidak apa-apa? Sepanjang jalan aku lihat kau memegangi terus lenganmu. Pasti masih bengkak kan?” Suara lainnya ikut menyusup di antara percakapan mereka. Laki-laki berpenampilan stylish sudah berjalan tepat di samping Sonya. Wajahnya tampan, bersih terawat tapi kelakuannya pecicilan. Tidak aneh kalau dia dijuluki playboy nomor satu di unit 3.

“Sakit Tom !” teriak Sonya saat lengannya ditekan-tekan oleh jari Tom.

“Benarkan kataku. Keadaanmu sudah pasti belum pulih dalam waktu semalam. Kenapa kau berangkat?”

“Pak Bani meneleponku.” jawab Sonya sambil menata meja kerjanya yang terlihat sedikit berantakan.

Tom menyenderkan tubuhnya pada sekat yang memisahkan meja kerjanya dengan meja kerja Sonya. “Untuk apa? ”

Sonya mengangkat bahu “Entahlah.”

Lila membenarkan letak kaca matanya dan mulai berujar sambil menunduk “Ku harap kau jangan terima proyek lagi beberapa hari ke depan. Kalau perlu kau ambil cuti kerja dan berliburlah. Jangan gara-gara kau menyukai Pak Bani kau mengambil semua proyek-proyek gila yang diberikannya.”

Tom membuang pandangnya sambil mendesah. “Kau masih menyukainya hah? Sudah kubilang kan sebagai sahabatmu, lupakan dia. Dia hanya menyukai kembaranmu itu.”

 Sonya menyipitkan matanya dan mulai menegaskan suaranya “Aku memang masih menyukainya. Tapi aku tahu diri karena dia menyukai Sonia bukan aku. Aku akan segera melupakannya. Tenang saja.” Ia kemudian menoleh ke arah Lila yang masih tertunduk “Dan perlu kau tahu Lila, aku tidak mengambil semua proyek yang diberikan karena aku menyukai Pak Bani, tapi karena aku menyukai pekerjaan ini.”

Tepat pada saat itu terdengar dering dari ponsel Sonya. Pak Bani menelepon.

“Iya Pak... Oh ya saya sudah ada di kantor.. Saya segera kesana.”

“Aku harus menemui Pak Bani sekarang.” Kata Sonya sambil memandang Tom dan Lila bergantian.

***

Sonya menghembuskan napas panjang tepat di depan pintu ruangan Pak Bani. Jantungnya masih berdegup kencang saat tahu ia akan bertemu laki-laki itu. Laki-laki yang menyukai saudara kembarnya.

Ia mulai mengetuk pintu beberapa kali lalu membuka pintu dan melangkah masuk setelah terdengar sambutan dari dalam. Ruangan kerja dengan nuansa hitam putih yang tertata rapi sudah akrab bagi penglihatannya. Di sudut ruangan, seseorang sibuk membolak-balik lembaran kertas. Laki-laki itu segera mengangkat kepala dan tersenyum saat menyadari Sonya melangkah masuk. Kemudian segera mengemasi dokumennya dan beranjak untuk menyambut Sonya.

Arbani, laki-laki bertubuh jangkung yang dianugerahi senyum manis dan harta berlimpah. Dia juga anak pemilik lembaga penelitian tempat Sonya bekerja. Bani dan Sonya sekaligus Sonia kuliah di tempat yang sama, namun terpaut satu angkatan. Sonya mulai menyukai Bani saat tahun kedua kuliah dan di saat itu juga ia harus menyerah karena Bani lebih memilih saudara kembarnya.

“Bagaimana kabarmu ? Sudah baikan ? Kau mau minum ?” tanya Bani seraya mempersilakan Sonya duduk.

“Tidak susah repot-repot, Pak. Saya sudah baik-baik saja.”

“Syukurlah kalau begitu. Aku harus berterima kasih banyak atas kerja kerasmu. Berkat kau lembaga kita mendapat penghargaan dan dapat memperluas jaringan dengan banyak pihak. Sekali lagi terimakasih.” Bani menghentikan ucapannya sejenak lalu tersenyum. “Sudah kukatakan tidak usah memanggilku Bapak. Kita kan teman dari kuliah.”

Sonya tersenyum kecut. “Tapi ini di kantor. Saya tidak bisa seenaknya memanggilmu.”

“Terserah kau saja kalau begitu.” ucap Bani terkekeh.

“Sebenarnya ada hal apa yang Bapak ingin bicarakan?”

Raut wajah Bani seketika berubah serius. “Aku harus memberitahumu sesuatu.” Ia menahan napas beberapa saat lalu melanjutkan “Kau tahu daerah Sitopang ? Letak pulaunya di ujung negeri.”

Sonya mengangguk mengiyakan “Bukankah itu pulau yang sedang gencar membuat gerakan agar Pemerintah mau melepaskan pulau itu? Lalu apa hubungannya dengan saya?”

“Sebenarnya aku tidak ingin meminta ini darimu karena kau pasti masih syok dan lelah setelah kejadian itu. Tapi ini perintah dari atasan jadi aku tidak bisa menolaknya. Berdasarkan hasil kerjamu kemarin, atasan ingin kau melakukan penelitian di sana. Kau bertugas mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi di sana. Presiden sendiri yang meminta ini kepada atasan.”

“Presiden?”tanya Sonya terhenyak.

“Iya. Kau mendapat kesempatan yang bagus untuk menunjukkan potensimu. Jika kau bekerja dengan maksimal, bukan tidak mungkin kau akan di tempatkan di jajaran peneliti pribadi presiden.”

“Benarkah? Kalau begitu saya setuju. Kapan saya harus berangkat ?”

***

Sonya mengemasi baju-baju secukupnya dan memasukkannya pada koper hitam besar yang tergeletak di lantai. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menerima tawaran dari Bani. Peneliti pribadi Presiden ? Pasti akan sangat hebat jika dirinya bisa mencapai posisi itu. Dengan kata lain dia bisa menunjukkan pada Sonia bahwa dirinya juga punya kesempatan yang sama.

Sejak beberapa tahun yang lalu dirinya dan Sonia menjadi tidak terlalu dekat. Atau lebih tepatnya saling bertolak belakang. Sonia berubah dan selalu menganggapnya sebagai saingan bukannya saudara kembar. Sampai saat ini Sonya tidak pernah tahu mengapa Sonia begitu.

“Kau pergi kemana ?” Sonia berdiri sambil memperhatikannya dari luar kamar. “Oh kau akan pergi ke Sitopang ? Aku mendengarnya dari Bani.” Sonia melangkah mendekat. “Kau yakin sanggup ? Menyerah saja. Kau mungkin tidak akan pulang kali ini.” ucapnya menyeringai.

Sonya menjawab cepat tanpa menoleh. “Tidak usah mengurusi urusan orang lain.”

“Kau kan saudara kembarku, yah setidaknya seperti itulah kita seharusnya. Iya, kan adikku, Sonya?”

“Sonia, kumohon. Jangan ikut campur urusanku. Bukankah aku tidak pernah ikut campur urusanmu? Jadi kumohon pergilah. Dan jangan katakan apapun pada Mamah.”

“Kapan kau berangkat?”

“Besok subuh.”

“Kalau begitu pergilah. Semoga berhasil.” ucap Sonia sekenanya lalu pergi menjauh.

Mata Sonya mengamati baju-baju di dalam koper tapi pikirannya bukan tertuju ke sana. Sebenarnya apa yang sudah mengubah Sonia menjadi seperti itu ? Sonia yang dikenalnya dulu jauh berbeda dengan sekarang. Sonia baginya sudah seperti setengah dirinya. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Dan sekarang mereka justru bersaing layaknya orang asing.

***

Join MovellasFind out what all the buzz is about. Join now to start sharing your creativity and passion
Loading ...