lloviendo


0Likes
0Comments
413Views

1. Uno

Bel panjang sudah berdering sedari tadi. Itu tandanya Viena harus segera menembus kerumunan siswa lain yang juga berdesakkan untuk sampai ke gerbang sekolah. Jangan sampai ia bertemu dengan orang itu. “Vi, kamu pulang sendirian? Ngga bareng sama..” Viena cepat-cepat memutus ucapan teman sebangkunya itu sebelum menyebut nama orang yang sedang ia hindari sejak kemarin. “Aku buru-buru, Yes. Aku duluan ya.” Viena menuntun sepedanya keluar dari parkiran sempit di ujung gerbang sekolah. Rasanya memang tidak enak meninggalkan Yesa, siswi terpintar sekolah dengan kacamata tebalnya – yang juga teman sebangkunya- sendirian. Tetapi ia harus menghindari Yesa menanyakan macam-macam tentang orang itu. Yesa pasti sudah bisa menebak kenapa hari ini ia uring-uringan sepanjang pelajaran di kelas. Hari ini hanya ada satu orang yang ia tidak ajak ngobrol, tidak seperti biasa. Orang yang sejak kemarin membuatnya kesal setengah mati karena membuatnya mati kutu di acara perpisahan. Padahal Viena tidak punya niatan hadir kalau bukan karena bujukan orang itu. Semakin ia memikirkan orang itu tekukan di wajah Viena semakin tebal. Orang itu benar-benar harus diberi pelajaran. Viena masih sibuk dengan pikirannya saat tiba-tiba roda sepedanya menabrak sesuatu. “Hei ! Bisa minggir ? Ini jalanan umum kenapa berhenti sembarangan.” Omel Viena pada sepeda di depannya. “Masih marah?” Viena mengangkat wajahnya dan mendapati orang itu ada di depannya. Betul, orang yang ia hindari sepanjang hari ini. Bagaimana ini ? Ia harus pergi sekarang ? Atau bersikap biasa saja? Mana yang bisa membuat orang itu berlutut minta maaf kepadanya? Viena membelokkan sepedanya dan berjalan terus tanpa mempedulikan orang itu. Mungkin ini pilihan yang tepat. Lagian ia benar-benar tidak punya niat berbicara dengannya hari ini. Baru beberapa langkah Viena merasakan lengannya seperti ditarik sesuatu dari belakang. Benar saja orang itu yang melakukannya. Mungkin tidak ada salahnya mendengarkan alasannya mengapa ia tidak datang ke acara perpisahan sehingga membuatnya mati kutu seorang diri. Laki-laki di depannya menatapnya lurus-lurus beberapa saat tanpa berkata apapun. Apa maunya sebenarnya? Viena berusaha tampak biasa saja walau tanpa sadar telah menahan nafas sepersekian detik. Viena memang sudah mengenal orang itu sejak masuk SMA, tetapi itu tidak membuatnya kebal pada tatapan matanya. Mata yang hitam dan bulat dengan bulu matanya yang lentik, ia berani bertaruh tidak ada satupun wanita yang tahan jika ditatap dengan sepasang mata itu. Sejak pertama masuk SMA, Aliando adalah orang pertama yang dikenalnya bahkan sudah menjadi teman baik sampai sekarang. Entah kenapa sejak pertama kali ia selalu memanggilnya Al padahal orang lain memanggilnya Ali. Mungkin, karena lebih mudah diucapkan dan diingat, tentu saja. Al pindah ke rumahnya saat ini tepat saat ia masuk SMA. Ia menempati rumah yang jaraknya tidak jauh dari rumah Viena. Jadi, bisa dibilang mereka sering berangkat dan pulang bersama. Mengayuh sepeda bersama seorang laki-laki menyusuri bukit indah, romantis kan ? Siapapun pasti berpikir mereka bukan hanya sekedar teman. Teman-teman sekelas mereka selalu merecoki dan mencekoki mereka dengan pertanyaan aneh-aneh. Bahkan beberapa temannya mengatakan mereka mungkin berjodoh karena mereka terlihat mirip. Sudah pasti teman-temannya terlalu sering melihat mereka bersama jadi mereka seolah-olah terlihat mirip. Sejauh ini hanya alasan itu yang cocok. Mereka sudah biasa dengan sangkaan teman-teman tentang hubungan mereka. Sejujurnya Viena sendiri tidak tahu menahu dengan perasaannya sendiri. Memang Al adalah teman yang paling baik dan mengerti dirinya. Al selalu membuatnya nyaman saat berada di sisinya. Padahal Viena bukan tipe perempuan yang mudah dekat dengan teman laki-laki. Tetapi Al berbeda, ia sadar betul tentang itu. Selebihnya ia tidak terlalu yakin. Al terlalu suka bergurau jadi ia tidak yakin bisa membedakan mana yang ia katakan serius atau hanya bercanda. “Masih marah?” Al mengulangi pertanyaannya. “Iya, kau jelas-jelas tidak datang. Bagaimana aku tidak marah.” Viena menelan ludahnya. Oh Tuhan, sepertinya ia sudah mengatakan sesuatu yang salah. Al justru memandangnya terus tanpa melepas pegangan tangannya. Seharusnya, ia maafkan saja tadi. Daripada harus ditatap seperti ini lebih lama. Al akhirnya melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah. Syukurlah... Sungguh, apakah ia harus berterimakasih untuk itu ? Tidak boleh ! Ia seharusnya masih marah. “Kemarin ayahku datang dan memintaku bertemu dengannya. Kau tahu kan sudah satu tahun kami tidak bertemu.” Al bersandar pada sepedanya lalu melanjutkan “Ia ingin memberiku selamat atas kelulusanku. Karena ia hanya beberapa hari di Indonesia dan akan langsung pergi lagi.” Al mendesah lemah. Terlihat sekali kalau Al sedang cemas. Viena memandanginya dengan perasaan serba salah. Kenapa Al tidak memberitahunya dari kemarin ? Kalau ia memberitahunya pasti ia tidak salah paham seperti ini. Viena menepuk dahinya pelan sambil mengutuk dirinya sendiri. Ia tidak bisa memafkannya begitu saja. Kalau itu terjadi Al pasti menertawakannya setelah ini. “Oh iya, aku membawa sesuatu yang seharusnya kuberikan padamu kemarin.” Al merogoh saku celana kanannya dan mengangkat sebuah benda tepat di depan mata Viena. Viena mengerjapkan matanya tidak percaya. Benda bulat itu benar-benar cincin kan ? Kenapa juga tiba-tiba Al memberinya benda seperti itu ? “Menikahlah denganku..” Bumi di sekeliling Liora terasa langsung runtuh. Apa telinganya sudah tuli ? Tadi Al bilang apa ? “Ya Tuhan Al.. Kumohon jangan bercanda sekarang. Aku sedang tidak ingin bercanda ! Kalau kau ingin melamar setidaknya kau harus memberikan cincin sungguhan.” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Viena. Ia yakin sekali Al sedang ingin menggodanya, supaya ia luluh lalu memaafkannya. Trik basi. Tapi kenapa jantungnya berdegup sangat kencang? “Bagaimana kau tahu aku bercanda ?” Viena memandang sebal ke arah Al lalu mendengus pelan. Sebenarnya ia bercanda atau serius ? Ia bilang bercanda tapi wajahnya tidak terlihat bercanda. Ia ingin bermain-main sekarang ? Sungguh, ia memang harus diberi pelajaran. “Itu memang niat awalku. Tapi sekarang aku mau serius.” Al kembali merogoh saku celana tetapi kali ini yang sebelah kiri. Ia mengadahkan sebuah benda bulat sama seperti sebelumnya. Tetapi yang satu ini terlihat berkilau. “Waah, cantiknya. Darimana kau punya uang untuk membeli benda seperti itu ?” Kekaguman yang terdengar dari suara Viena berubah menjadi kecurigaan. Viena tidak mau Al melakukan hal bodoh hanya untuk membeli cincin itu. Viena kembali memandang lekat benda itu. Benda itu benar-benar berkilau terpapar sinar matahari senja. Sangat indah. “Tenang saja, ini bukan cincin mewah yang harganya berjuta-juta. Tapi setidaknya ini asli kan ?” Al tersenyum lebar. “Seharusnya ini menjadi hadiah ulang tahunmu.” Mata Viena membesar. Hadiah ulang tahun katanya ? Kukira ia sudah lupa karena ia tidak datang kemarin. Tapi kalau dipikir-pikir tidak mungkin ia lupa. Viena dan Al lahir pada tanggal dan tahun yang sama, jadi kemungkinan Al melupakan ulang tahunnya kecil. Viena mengira ini sebuah keajaiban ketika pertama kali Viena mengetahui Al dan dirinya memiliki tanggal lahir yang sama. “Kau ingin mendapatkan cincin di ulang tahunmu kan ?” Viena berdeham mengiyakan. “Tapi tidak perlu mengatakan hal seperti itu juga, tahu !” “Aku serius.” Al tidak bisa menahan tawanya melihat perubahan pada wajah Viena yang berdiri membeku di depannya. “Al! Kau benar-benar keterlaluan.” Viena menuntun sepedanya cepat. Sekilas ia bisa melihat ekspresi wajah Al yang masih mengejeknya. Keterlaluan! Tidak seperti rencana sebelumnya. Harusnya bukan ia yang dipermainkan seperti ini. Emosi Viena benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Mungkin sekarang sudah ada dua sungut di atas kepalanya. “Vi, kau yakin tidak mau menerima hadiah ini?” teriak Al disela tawanya. Benar juga, sebaiknya jangan menyia-nyiakan hadiah ulang tahun itu. Viena berbalik lalu dengan cepat menyambar benda bulat dari tangan Al. “Menikahlah denganku.” Pinta Al setelah berhasil mencegah Viena kembali kabur. Kali ini ia benar-benar berusaha menahan tawanya. Gadis itu sepertinya sedang tidak bisa diajak bercanda. “Oke.” Viena memasang cincin itu ke jari manis kirinya. Lalu melanjutkan sambil mengejek “Akan kunikahkan kau dengan kambing milik penjaga sekolah.” “Bisa aku meminta hadiahku?” Kini di tangan Al ada secarik kertas yang dilipat rapi. “Kau ingat kan tahun kemarin aku bilang aku ingin memilih sendiri hadiahku?” Viena mengangguk ringan. Ia memang mengingatnya makanya khusus tahun ini ia tidak perlu repot-repot memilih hadiah untuk Al. “Jam 7 di taman dekat rumahmu. Dan jawab ini.” Al menyodorkan kertas yang terlipat rapi. “Hanya ini ? Syukurlah aku tidak perlu membeli sesuatu yang mahal atau membuat sesuatu yang rumit. Apa ini? Atau jangan-jangan ini perjanjian agar aku jadi pembantumu selamanya ?” Viena mendengus sebal sambil membolak-balik kertas yang dipegangnya. Al menarik ujung hidung Viena gemas. “Tidak usah banyak komentar. Datang saja dan jawab. Selesai.” *** “Sebenarnya apa isinya?” gumam Viena saat melangkah masuk ke dalam rumahnya. Sekilas ia melihat Mamanya duduk di ruang tamu. Mamanya tidak sendirian ada seorang pria juga di sana. Mungkin hanya kenalan Mama. Viena menundukkan kepalanya sejenak lalu melenggang pergi tanpa peduli siapa orang itu. “Vi. Kau tidak merindukanku?” Viena mendengar jelas namanya disebut. Pria itu tadi mengatakan sesuatu padanya, kan ? Apa sebelumnya mereka pernah bertemu? Viena jarang sekali menemui kenalan Mamanya. Tetapi sepertinya ia tidak asing dengan suara pria itu. Suaranya mirip... “Papa!” Viena langsung menghambur ke pria yang ternyata Papanya. Papa yang sudah 3 tahun tidak pernah ditemuinya. Mama dan Papa sudah berpisah sejak dirinya masih bayi. Papa kembali ke Spanyol karena memang Papa adalah orang Spanyol. Dulu Papa bekerja di Indonesia beberapa tahun lalu bertemu dengan Mama dan akhirnya mereka menikah. Jadi tidak aneh kalau bahasa Indonesia Papa sangat lancar. Entah kenapa mereka berpisah. Padahal mereka masih terlihat saling menyayangi. Mama atau Papa pun sampai sekarang belum ada yang menikah lagi. Memang banyak hal yang belum mereka ceritakan padanya. Namun Ia tidak pernah memaksa mereka untuk menceritakan hal-hal yang belum harus ia ketahui. “Papa sejak kapan di sini? Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya ?” Papa tersenyum sambil menatap wajah Viena. Lipatan di bawah matanya tampak lebih jelas dari sebelumnya. Rambutnya pun kini di dominasi warna putih. Selama itukah ia tidak bertemu sampai banyak sekali perubahan pada wajah Papa nya itu? “Papa baru saja sampai kok. ” Papa menyentuh lembut kepala Viena. Akhirnya Viena dapat merasakan sentuhan yang selama ini dirindukannya. “Kau sudah besar sekali ya.. Oh ya selamat atas kelulusanmu. Papa punya hadiah untukmu.” Papa menyodorkan sebuah bingkisan kecil berwarna merah. Viena membuka bingkisan itu dan mendapati sebuah gelang perak asli dari Spanyol. Di bagian dalam gelang terukir kata-kata dalam bahasa Spanyol yang tidak ia mengerti. Bahasa Spanyolnya memang sangat payah walau Papanya orang Spanyol. “Waah, gelangnya cantik Pa. Terimakasih ya Pa.” Viena merangkul Papanya kuat. “Ngomong-ngomong Papa kapan pulang ke Spanyol ?” kata Viena sambil melingkarkan gelang pemberian Papa ke pergelangan tangannya. “Nanti malam.” Seketika rasa kecewa menyeruak kuat. Kenapa secepat itu Papa pergi? Harusnya mereka dapat berjalan-jalan sebentar merayakan kelulusannya. “Kalau begitu Papa seharusnya tidak usah datang.” gerutu Viena “Justru itu Papa kesini.” Papa membenarkan letak dasinya lalu melanjutkan “Papa ingin mengajak kamu ke Spanyol.” Perkataan Papanya membuat otaknya tidak berfungsi baik yang membuatnya harus mencermati kata-kata itu dengan susah payah. “ke--- Spa--nyol?” “Iya. Tadi Papa sudah menceritakannya pada Mamamu dan ia setuju. Tentu asal kau mau. Bagaimana, Vi?” Viena melempar pandang ke arah Mama nya yang mengangguk mengiyakan ucapan Papa. “Nanti malam ? Jam berapa ?” “Jam 6 kita harus sudah berangkat. Aku sudah mengurus visa dan paspor kamu dari jauh-jauh hari. Jadi kamu jangan khawatir, kamu sudah tinggal siap berangkat.” Viena menimbang-nimbang penawaran Papanya. Ke Spanyol adalah mimpinya sejak dulu. Tapi kenapa harus berangkat malam ini ? Malam ini ia harus menemui Al. Lalu bagaimana ini? “Pa, kalau Vien berangkatnya sendiri bagaimana ? Bukan malam ini ?” Viena melanjutkan ucapannya setelah melihat dahi Papanya berkerut. “Malam ini aku sudah janji menemui seseorang. Aku tidak bisa membatalkannya. Tapi aku ingin sekali ikut dengan Papa.” Tangan Papa mengusap-usap dagunya yang sudah tercukur rapi. Papanya menimbang hati-hati permintaan Viena lalu akhirnya memutuskan “Boleh. Tapi kau yakin tidak apa-apa kalau sendirian ? Kau kan belum pernah pergi ke luar negeri.” “Aku yakin tidak akan ada masalah besar.” “Oh, baiklah baiklah. Kau bisa beritahu kapan kau akan berangkat. Biar Papa yang urus tiketnya.” *** Al menjatuhkan dirinya kasar ke atas tempat tidur. Ia teringat kejadian tadi sore. Ia sudah membuat Viena sendirian di acara perpisahan kemarin. Padahal Ia tahu Viena tidak terlalu suka menghadiri acara seperti itu. Viena terlihat kesal hari ini tapi kenapa ia malah mengatakan hal seperti itu ? “Menikahlah denganku.” Sungguh, kata-kata itu keluar begitu saja. Sama sekali tidak direncanakan. Ia hampir saja membuat gadis itu menjauhinya. “Ya Tuhan...” desah Al pasrah sambil mengusap wajahnya. Untung saja tadi Viena hanya menganggapnya sedang bercanda walau terlihat jelas gadis itu agak terkejut saat mendengarnya. Itu lebih mudah baginya daripada Viena merasa risih lalu malah menjauhinya. Harapan satu-satunya adalah kertas yang diberikan kepada Viena tadi. Ia harus sangat hati-hati saat menyatakan perasaannya. Viena mudah terusik dengan hal-hal yang terlalu frontal – seperti yang dilakukannya tadi sore – . Ia hanya menuliskan “Aku menyukai hujan”. Entah Viena bakal mengerti isyarat itu atau tidak. Yang terpenting baginya rasa yang sudah lama ia pendam akhirnya tercurah juga. Hanya itu. Ia melihat Viena sebagai gadis yang baik dan pengertian. Ia bebas menceritakan apapun padanya. Ia juga sangat mempercayainya. Setiap hari ia selalu merindukan wajahnya. Wajahnya yang terlihat lugu dan tulus selalu mengingatkannya pada seseorang, tapi ia sendiri tidak ingat siapa orang itu. “Al? Ada apa denganmu ? Sedang jatuh cinta ya ?” Papanya melihatnya melalui pintu kamar yang terbuka sambil tersenyum. Tapi baginya Papanya terlihat sedang menggodanya. “Papa... mana mungkin. Hanya saja ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sekarang.” “Pasti seorang gadis. Siapa?” Kali ini Papanya berjalan mendekatinya dan duduk tepat di sampingnya. “You got me, Pa.” gumamnya sangat lirih agar Papanya tidak mendengar. “Papa.. sudah kubilang bukan itu.” elaknya sekali lagi. “Ya, terserah saja kalau kau tidak mau menceritakan gadis itu.” Papanya beranjak lalu melanjutkan “Cepat siap-siap.” Al mengerutkan keningnya dalam. “Siap-siap kemana ?” “Pulang tentu saja. Bukannya kau bilang mau ikut Papa pulang.” “Se—ka—rang?” “Iya kau harus bergegas kalau tidak ingin ketinggalan pesawat.” Oh, no. Ia harus menemui Viena sebentar lagi. Tapi Ia tidak mungkin membantah Papanya. Lalu bagaimana ini? Ia segera beranjak lalu merogoh kantung celananya mencari ponselnya. Ia harus menghubungi Viena sebelum gadis itu mengamuk karena Ia tidak bisa datang. Dimana ponselnya? Kenapa kantungnya terasa kosong? Ia menarik selimutnya kasar lalu membuang seluruh bantal ke lantai tapi Ia tetap tidak menemukan benda itu. Dimana Ia menaruhnya tadi? Ia menyerbu masuk ke dalam kamar mandi lalu akhirnya melihat benda itu tergeletak sembarangan di pinggiran bak. Syukurlah. Sebelum Ia dapat meraih benda itu kakinya tersandung sesuatu yang membuatnya kehilangan keseimbangan lalu.. Plung Oh, tidak ! Ponselnya meluncur bebas ke dalam bak penuh air ! Ini tidak baik. Sangat tidak baik. Ia segera menyelamatkan ponselnya dan mencoba menghidupkan benda yang basah kuyup itu. Layar benda itu tetap hitam. Tidak ada tanda-tanda akan muncul warna lain. Al memegangi kepalanya yang terasa akan pecah. Kesialan apa yang sedang menimpanya sekarang? *** Viena sampai di taman dekat rumahnya tepat jam 7. Ia memilih untuk menunggu di bangku taman dekat lampu-lampu. Tidak terlalu banyak orang malam ini. Mungkin karena udara dingin di luar sehingga orang malas jalan-jalan ke taman. Pandangan matanya tersita pada kertas yang digenggamnya. Ia membuka kertas itu dan membaca isinya sekali lagi. Aku menyukai hujan. “Huh.. Kau sedang memberiku semacam sandi atau apa ? Aku sama sekali tidak mengerti. Bagaimana caranya aku menjawab ini? Ini tidak terlihat seperti pertanyaan.” Vienna melipat lagi kertas itu lalu menggenggamnya lebih erat. Sebenarnya apa yang ingin Al katakan kepadanya? Kenapa dia tidak datang juga? Viena melirik jam tangannya lalu mendesah pelan. Sudah 15 menit Ia menunggu. Viena menggosok-gosokkan tangannya mencoba mengusir angin dingin yang mengusiknya sejak tadi. Setetes air terjatuh dan mengenai ujung jarinya. Oh hujan ? Viena berlari dan berteduh di depan sebuah kafe di ujung taman. Ia melihat butiran-butiran air hujan yang jatuh semakin banyak. Kumohon Al cepatlah datang... “Viena ?” Seorang wanita umur 30 tahunan bergerak mendekati Viena. Wanita itu tetangganya. Rumah mereka terpaut tidak jauh. “Ersa? Kenapa kau bisa ada di sini?” Viena mengamati Ersa mengenakan pakaian yang terlihat seperti seragam. “Kau bekerja di kafe ini ?” Ersa mengangguk. “Iya. Kau sendiri ? Kau kehujanan ? Bawa payung?” “Sebenarnya sedang menunggu teman di taman tapi sepertinya... tidak akan datang. Aku lalu meneduh kemari. Aku.. tidak bawa payung.” “Ya ampun kau kedinginan. Mau aku buatkan kopi hangat untukmu ?” “Tidak perlu Ersa. Bisakah kau pinjamkan payung saja untukku ? Aku rasa aku harus segera pulang.” Ersa mengangguk lalu masuk ke dalam kafe. Beberapa saat kemudian Ersa kembali dengan membawa sebuah payung warna hijau. “Ini kau bisa pinjam milikku.” “Terimakasih banyak Ersa. Aku akan langsung mengembalikannya besok. Tapi, bagaimana denganmu?” “Tidak usah khawatirkan aku. Sungguh.” “Terimakasih banyak. Aku pergi dulu.” *** Viena menghentikan langkahnya saat pandangannya dapat menjangkau sebuah bangunan besar bercat putih. Sebelumnya ia berniat langsung pulang tapi tiba-tiba saja Ia berbelok dan mengarah ke tempat ini. Ia harus memastikan sendiri. Viena mengepalkan tangannya geram. “Awas kau Al. Kalau kau ternyata masih di rumah dan sedang tidur lalu kau mengatakan kau lupa dengan janji yang kau buat sendiri, aku akan menghabisimu.” Seseorang membuka pintu setelah beberapa kali Ia mengetuk pintu. Ternyata Bibi gemuk yang bekerja di rumah Al. Bibi itu tersenyum ramah kepada Viena. Ini bukan pertama kalinya Ia bertemu dengannya bahkan Bibi itu sudah mengenalnya. Bibi itu tersenyum ramah. “Eh, non Viena.” “Bi, Al ada di rumah?” Senyum Bibi Inah tiba-tiba saja luntur. Pandangan matanya terlihat resah. “Non Viena belum tahu?” Viena mengerutkan alis lalu Bibi melanjutkan ucapannya. “Anu.. den Al pergi ke... Spanyol. Ikut Papanya.” Viena mengeja sebuah kata dengan tergagap. “Spa – nyol ?” “Non tau kan Papanya den Al kerja di Spanyol? Beliau ke Indonesia sejak 2 hari yang lalu. ” Viena menggeleng pasrah. “Aku tidak tahu Bi. Al selama ini hanya cerita Papanya kerja di tempat yang jauh. Aku tidak tahu kalau Papanya kerja di Spanyol.” “Berarti non juga belum tahu kalau den Al dari bayi tinggal di Spanyol ? Baru pas masuk SMA dia pindah ke Indonesia.” Lagi-lagi Viena menggeleng. Kali ini sangat lemah karena tenaganya sudah seperti sudah terkuras habis. Ia merasakan jantungnya dihantam dengan sesuatu yang besar. Udara yang tadi lancar keluar masuk lewat tenggorokannya tiba-tiba tersendat. Kini ia sulit bernafas, kakinya lemas. Tapi ia tidak boleh pingsan di sini. Setidaknya ia harus sampai rumahnya dengan selamat tanpa merepotkan orang lain. “Non Viena ngga papa tho?” tanya Bibi cemas melihat wajah Viena yang tampak memutih. “Ngga papa Bi. Ya sudah saya pulang dulu. Permisi.” Viena menggunakan seluruh tenaganya yang tersisa untuk menyeret langkahnya. Tenaganya pasti masih cukup untuk berjalan sampai ke rumah atau malah sampai ke kamarnya. Yang mengganggu pikirannya sekarang adalah kenapa Al tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya ? Kenapa juga orang itu pergi tanpa pemberitahuan sama sekali? Kenapa Ia merasa se-kecewa ini hanya gara-gara itu ? Matanya terasa perih dan seketika itu juga air mata mengalir deras melewati pipinya. *** Viena membuka matanya perlahan. Pagi ini matanya terasa sangat berat untuk dibuka. Sudah pasti ini akibat menangis semalaman. Kini matanya tampak dua kali lebih besar dari biasanya. Ia menatap langit-langit kamarnya lalu mendengus pelan. Langit-langit kamarnya memiliki beberapa retakan, mirip habis diguncang gempa. Sama persis dengan hatinya sekarang. Ia bangkit dari posisi tidurnya lalu duduk di tepian kasur. Matanya terhenti pada benda yang tak berbentuk di atas meja. Benda itu seperti habis terkoyak-koyak binatang buas. Tentu binatang buas tidak pernah punya niatan untuk mengoyak kertas kecil seperti itu. Jadi bukan ulah binatang buas tetapi ulah tangannya sendiri. Jika ia ingat-ingat kejadian tadi malam, ia bergidik ngeri. Kemarin... dirinya benar-benar sangat menakutkan. Matanya memperhatikan gumpalan-gumpalan tisu di bawah tempat tidurnya yang dibuang sembarangan. Apa tadi malam ia menangis semenakutkan itu? Rasanya ia tidak pernah menangis seperti tadi malam. Viena menelan ludahnya yang seketika terasa pahit. “Sungguh memalukan.” gumamnya pelan. Perhatiannya beralih ketika ia mendengar suara ponselnya. Ia merogoh bawah bantalnya lalu segera menjawabnya setelah melihat tulisan Papanya di layar. “Halo, Pa? Kenapa telpon pagi-pagi begini.” “Viena.. Bisakah kau menyusul Papa besok? Papa sudah tidak sabar.. Lagian Papa ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu.” “Besok?” Viena mengetuk jarinya ke atas meja sambil menimbang-nimbang tawaran Papanya. Bukankah ini kesempatan yang bagus ? Ia butuh sedikit refreshing. Ia bisa jalan-jalan bersama Papanya di Spanyol. Tunggu.. Apa? Spanyol? Bukankah Al juga pergi ke Spanyol ? Kebetulan sekali ! Siapa tahu ia bisa mencarinya di sana. Bagaimanapun juga ia sudah berjanji memberikan hadiah ulang tahunnya walau ia tidak tahu apa yang harus dijawab atau bagaimana harus menjawabnya. “OKE !” katanya mantap dan terdengar sedikit berteriak. “Tidak usah berlebihan seperti itu Vien. Telinga Papa sakit.”
Join MovellasFind out what all the buzz is about. Join now to start sharing your creativity and passion
Loading ...