A Tale of First Love


0Likes
3Comments
616Views
AA

2. Second Tale

"Cinta ?" tanya Subin terkejut. Berpuluh-puluh lekukan menghiasi keningnya sedangkan mulutnya tidak bisa berhenti menganga.

"Iya, cinta, memang kenapa ?" jawab Mr.Kim sambil terus menyoret-nyoret sesuatu di halaman bukunya.

Mr.Kim adalah dosen pembimbing akademiknya. Dia sudah terkenal angker di antara para mahasiswa se-universitas. Kalau nilai mahasiswanya turun sedikit saja, Dia akan memanggilnya dan kemudian menjejalnya dengan kuliah filsafatnya yang antah berantah.

"Mr.Kim, bisakah saya mendapat genre lain ? seperti Thriller? Fantasi? Komedi? kenapa harus tentang cinta ?" Subin mulai terlihat putus asa karena pilihan Mr.Kim yang dianggapnya absurd itu.

Setiap tahunnya seluruh mahasiswa seni harus membuat suatu karya yang nantinya akan dipentaskan dalam sebuah panggung seni yang sangat meriah. Karena Subin mengambil sub-study kepenulisan naskah maka dia mendapat jatah membuat naskah drama yang akan dimainkan oleh mahasiswa lain yang mengambil sub-study akting, sesimpel itu saja. Tapi baginya ini adalah pertarungan hidup mati.

"Tidak bisa !" Mr. Kim masih asik menggores-goreskan pena antiknya ke lembaran bukunya.

Hari ini dia tetap terlihat modis dengan baju hangatnya yang katanya dia beli di Eropa. Usianya mungkin sudah melebihi setengah abad, tetapi selera fashionnya tidak kalah dengan mahasiswanya. Bahkan pernah ada mahasiswa yang dia komentari habis-habisan hanya gara-gara dia memakai kaus v-neck dengan dobelan kaus v-neck juga. Katanya sama sekali tidak keren. Entahlah.

"Kenapa harus cinta ?" tanyanya berulang-ulang heran. Dia harus tahu mengapa Mr.Kim memilihkan genre yang menurutnya lebih mengerikan ketimbang bertemu langsung dengan alien.

"Nilai kamu belakangan ini sangat turun ! Kau tahu kan ? Lagian genre romance bukankah paling mudah ? Kau bisa menaikkan nilaimu !" jelas Mr. Kim dengan intonasi yang semakin naik.

"Tapi, bukankah yang membuat nilaiku turun karena genre itu? Nilaiku justru bagus di genre lainnya. Tolong Mr.Kim." Subin mengusap-usapkan telapak tangannya di depan wajah, memohon pada Mr.Kim untuk mengubah keputusannya.

"Bagus kalau begitu ! Berarti kau bisa mengembangkan kemampuanmu di genre romance. Kalau kau mengambil genre lain, kau bagaikan burung dalam sangkar." ujarnya sambil memutar kursi duduknya kembali menghadap ke meja.

"Sudahlah. terima saja dan lakukan yang terbaik. Aku yakin kau bisa melakukannya." kata-kata terakhir Mr.Kim ini entah kenapa terdengar ada benarnya juga. Sepertinya keputusannya sudah bulat. Subin benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali menerimanya.

"Baiklah, saya pamit Mr.Kim." Subin menundukkan kepalanya lalu bergegas pergi keluar dari ruang dosen.

***

"AAAAAKKK ! Benar-benar gila !" teriakan Subin menembus hiruk pikuk kantin fakultas siang ini. Sayangnya volume suaranya masih kalah dengan kebisingan yang semakin menjadi-jadi. Kepalanya terasa sangat pening memikirkan obrolannya dengan Mr. Kim tadi pagi, ditambah kebisingan di tempat itu membuat kepalanya seakan mendidih.

"Hahahahahahaaa~" Jungmin tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita Subin yang kebagian genre romance di panggung seni tahun ini.

"Baru saja dia bilang nilaku turun, aku harus menaikkan nilaiku. Tapi saat aku mengatakan nilaiku jatuh karena genre romance justru dia bilang aku harus mengembangkan bakatku, seperti burung dalam sangkar katanya. Dia sebenarnya ingin menolongku atau malah menjatuhkanku sih ? benar-benar tidak konsisten" gerutu Subin sambil mengacak-acak rambutnya, frustasi. Badannya lengser turun dari posisi duduk awalnya.

"Kau bahkan belum pernah berkencan, bagaimana caranya kau membuat naskah dramanya ? Ah, kau bisa mengkhayal ! Mengkhayal sedang berciuman dengan seorang pria seperti ini ?" Jungmin memonyong-monyongkan bibirnya membayangkan Subin akan melakukan hal yang sama.

"Ya!" Subin mendorong paksa wajah Jungmin yang mulai mendekatinya. Tanpa disengaja tangannya menyentuh bibir Jungmin yang monyong saat mendorongnya tadi. "aiish..." desis Subin jijik sambil mengelap telapak tangannya ke bagian samping kemeja denim yang digunakan Jungmin.

Jungmin tidak bisa menahan tawanya saat melihat nasib sial yang terus saja menimpa sahabatnya itu. Seketika Jungmin menghentikan tawanya dan terdiam dengan raut muka serius. "Jungmin-a ? Kenapa ?" tanya Subin khawatir. "Tidak apa-apa, aku hanya terpikir mungkin karena kau terlalu dekat denganku sejak kecil dan juga dengan Jongyeol jadi kau tidak bisa berkencan. Aku.." Subin memotong kalimat Jungmin, dia tidak ingin mendengar hal seperti itu lagi darinya. "Jungmin-a! Mana mungkin ! Jangan pernah berpikir seperti itu lagi ! Kau dan Jongyeol adalah sahabat baikku, yang sudah menjagaku selama ini. Aku hanya belum menemukan pria yang pantas berkencan denganku." Jungmin mengangguk setuju sambil mencoba mengembalikan mood baiknya.

"Makanya … carilah pacar ! Di usiamu sekarang ini, orang-orang tidak akan mempercayai kalau kau sama sekali belum pernah berkencan. Yang ada mereka mengira kau lesbian. Jadi aku dan Jongyeol tidak merasa lebih bersalah padamu." lanjut Jungmin sambil menyeruput Ice Mochachino yang belum lama tersaji di depannya.

Subin mencibir kesal. “Aku pernah menyukai pria! Dan itu bukan kesalahanmu sama sekali”

"Aku tidak sedang membicarakan tentang menyukai seorang pria. Kalau itu sering sekali kau melakukannya. Tapi itu hanya perkataanmu saja !" Jungmin terbayang kejadian beberapa bulan yang lalu. Subin berkunjung ke rumahnya, katanya dia ingin mengatakan hal yang sangat penting, hal yang sangat menyangkut hidup dan matinya. Saat dia tibai di rumahnya, dia dengan semangat dan berbinar-binar mengatakan “Aku menyukai Jihoon-seonbaenim.” Kalau ditanyai apa yang dia suka darinya, dia menjawab “Kata Hyejin, Jihoon-seonbaenim sangat romantis dan setia.” Hyejin ? Hyejin teman satu kelas Subin yang selalu saja mengejar setiap senior keren yang ditemuinya. Hyejin sepertinya mempunyai jiwa fangirl yang sangat kuat. “Bagaimana bisa Subin mempercayai perkataan gadis seperti itu?” pikir Jungmin keras. Kejadian ini tidak hanya satu kali, tapi berkali-kali. Jungmin mulai cemas dengan keadaan sahabat gadisnya itu.

"huh.." Jungmin menghembuskan napas panjang dengan tatapan mata kosong.

"hey ? Jungmin-a ? Kau kenapa ?" Suara Subin membuyarkan lamunan Jungmin.

"oh, tidak apa-apa." jawabnya sedikit tersentak kaget.

"Ah itu Jongyeol !" Subin menunjuk ke arah Jongyeol yang sedang mengantri di sebuah counter makanan. Jungmin langsung menghambur ke arah Pria tinggi itu. Mereka bukan gay atau semacamnya, tapi Subin sangat suka memanggil mereka dengan sebutan couple.

Jungmin berdiri di samping Jongyeol, tapi sepertinya Jongyeol belum menyadarinya. Dia terus saja mengobrol dengan Dio, teman satu kelas mereka. Sangat terlihat jelas sekarang Jungmin mulai kesal karena merasa tidak dihiraukan oleh Jongyeol.

"Kenapa ?" Subin menggoda Jungmin yang sudah kembali duduk di bangkunya. Jungmin hanya terdiam, memangku dagunya dengan kedua tangan sambil mencibir.

"Jongyeol tidak menghiraukanku.." baru saja dia menyelesaikan kalimatnya, Dia kembali beranjak dan mendekati Jongyeol sekali lagi. Jongyeol hanya bertingkah seperti "oh, ada kau" ke Jungmin. Jungmin tambah kesal dan berjalan kembali ke bangkunya. Baru beberapa langkah berjalan, Jungmin kembali berbalik, kemudian menendang pantat Jongyeol keras. "Awww!" jerit Jongyeol kesakitan.Jungmin berjalan kembali sambil tertawa geli.

***

"Cinta ? Cerita apa yang bisa kutulis tentang cinta ???" pikir Subin keras sambil terus memandangi dokumen kosong di laptopnya. Jarinya sudah menyentuh keyboard tapi belum sepatah katapun tertulis di sana.

"Kau adalah dewi yang turun dari khayangan, aku sangat mencintaimu." Pointer yang tadi hanya berkedip-kedip akhirnya berjalan maju saat jari-jari Subin mulai menekan tombol-tombol di keyboardnya bergantian.

"Ahhh menjijikan !!!!" Teriaknya sambil menghapus kembali kata-kata yang baru saja diketiknya.

"Aku butuh sesuatu yang elegant, tapi cinta itu memang menjijikan !” gerutunya tak henti-henti. Tanpa dia sadari, beberapa pasang mata sudah meliriknya dengan tatapan sinis, memperingatkannya kalau dia sedang berada di perpustakaan bukan di hutan. Subin hanya tersenyum singkat lalu kembali menatap serius ke layar dokumen yang berwarna putih bersih.

"Idee… idee. idee, aku butuh ide sekarang …" Bibir Subin komat-kamit seperti sedang membaca mantra sakti agar dia bisa segera menemukan ide cemerlang dan menyelesaikan naskah secepatnya.

"Ahh, kau ini berisik sekali ! Bisakah kau diam ? Kau mengganggu tidurku." Kesal seorang pria yang sedari tadi duduk di seberang tempat duduknya. Pria itu sudah tertidur pulas sejak Subin datang. Dia menggunakan buku sebagai bantalan yang dapat menahan berat kepalanya. Tapi kini pria itu terbangun karena suara Subin memenuhi lorong gelap di dalam telinganya, membuat kebisingan yang lama-lama semakin mengganggunya.

"Ini perpustakaan, kau tidak boleh berisik seperti itu." lanjutnya sambil menunjuk-nujukkan jarinya ke arah Subin yang menatapnya dengan tatapan tidak peduli.

"Ini memang perpustakaan, tapi kau malah enak-enakan tidur di sini. Ini bukan kamar asrama." tutur Subin santai, seolah kejadian tadi bukan salahnya sepenuhnya.

Subin kembali menatap ke layar laptopnya. Dia sadar pria itu sedang memasang muka kesal karena kelakuannya. Tapi dia tidak peduli. Sekilas matanya tertuju pada judul buku yang tadi digunakan pria itu untuk bantalan.

"Sebentar.." Subin menarik paksa buku yang sebentar lagi akan kembali menjadi tempat pendaratan kepala pria itu.

"Apa-apan ini?" teriak pria itu kesal.

"Eissh kau ini berisik sekali."

A Tale of First Love.

Subin membaca perlahan tulisan besar yang tercetak di cover buku itu.

"Waah, sepertinya bisa dijadikan referensi bagus." pikir Subin sambil tersenyum puas.

"Aku pinjam buku ini!" Pinta Subin tanpa menunggu jawaban dari pria itu. Dia langsung mengemasi barang-barangnya dan beranjak pergi keluar dari ruang perpustakaan yang mulai ditinggalkan pengunjungnya.

Pria itu hanya menatapnya heran dan kembali tersadar Subin serius mengambil buku itu darinya. Lalu berlari mengekor di belakangnya.

"hey!" Langkah Subin terhenti mendengar seseorang memanggilnya dari belakang. Pria tadi berhenti berlari dan mulai menata napasnya mencoba untuk berbicara.

"Kenapa ? Aku hanya meminjamnya, jangan khawatir aku akan mengembalikannya. Aku tidak akan mencurinya darimu." jelas Subin santai.

"Tidak boleh !" tolak pria itu yang sudah berhasil menata napasnya. Dia mulai melangkahkan kakinya mendekati Subin yang berdiri tidak jauh darinya.

"Kau tidak mempercayaiku ? Kau butuh sesuatu seperti.. kartu mahasiswa?" Subin mulai merogoh-rogoh isi tasnya mencari keberadaan dompet cokelat miliknya.

"Aku tidak perlu barang seperti itu !" tambah pria itu.

"Lalu ? Aku sangat membutuhkannya… Aku akan membayar biaya sewanya… atau kalau kau butuh sesuatu aku pasti akan membantumu, jika kau meminjamkannya." pinta Subin sambil memeluk erat buku yang tidak terlalu tebal itu.

"Aku bilang tidak bisa." kata pria itu sambil mengambil paksa buku dari pelukan Subin.

"Heyy.." Subin terus menatap buku itu seperti seorang anak kecil yang mainannya direbut oleh temannya dan bersiap merengek meminta mainannya segera dikembalikan.

"Aku juga membutuhkan buku ini ." ujar pria itu singkat tanpa menghiraukan raut memelas yang ditunjukkan Subin.

"Tolong akuu.. Kau bisa membunuhku jika kau tidak meminjamkannya." Subin kembali merengek di hadapan pria itu.

Pria itu hanya melirik dengan tatapan tajam  ke arah Subin lalu segera melangkah pergi meninggalkan Subin yang sebentar lagi mungkin akan merengek lebih hebat lagi.

"Dasar pelit !" teriak Subin sambil terus menatap punggung pria itu yang semakin menjauh

Join MovellasFind out what all the buzz is about. Join now to start sharing your creativity and passion
Loading ...