A Tale of First Love


0Likes
3Comments
614Views
AA

4. Fourth Tale

Di sudut ruangan, Subin terkantuk beberapa kali mencoba menahan kepalanya yang terasa semakin berat sementara Prof. Choi -dosen sastranya- berdiri di depan asik berceloteh yang justru terdengar seperti sedang mendongeng. Kuliah sastra seharusnya menyenangkan bagi Subin sejak awal kuliah, tetapi sejak Prof. Choi yang mengajar Subin hilang rasa pada mata kuliah yang satu ini. Dia akhirnya pasrah dan menyerah akan tawaran tubuhnya untuk sejenak terlelap dan segera membenamkan kepalanya di tumpukan lengannya. Dia berani bertaruh, dia tidur menganga pun dosen di depan itu tidak akan mempedulikannya. Lihat saja mahasiwa yang duduk di barisan depan. Sebagian besar mereka sudah tertidur pulas di atas tas empuknya, dan sebagian yang lain mengobrol atau hanya bergeming dengan smartphone mereka. Dosen itu tidak pernah menghiraukan mahasiswa yang tidak mendengarkannya. Baginya, tanggung jawabnya hanya menyampaikan kuliah dan mahasiswa memiliki tanggung jawab masing-masing untuk menyimak kuliah yang ia berikan. Bukannya Subin seorang mahasiswa yang tidak bertanggung jawab dan jelas-jelas dia sangat menyukai kuliah sastra, hanya saja cara Prof. Choi berceramah terlalu berbelit-belit dan membuat kupingnya berdenging saat mendengarkannya. Subin mati-matian menahan kantuknya sampai akhir kuliah, di saat mahasiswa yang lain sudah mulai kehilangan konsentrasi di awal.

"Kuliah hari ini cukup sekian. Sampai ketemu pada pertemuan berikutnya." Kata Prof.Choi mengakhiri kuliah -segala penyiksaan lahir dan batin- siang itu lalu segera mengemasi barang-barangnya dan bergegas meninggalkan kelas, yang diikuti juga oleh semua mahasiswa. Kecuali Subin yang masih terlelap dan belum sadar ruangan itu mulai lengang serta seorang wanita yang duduk di sampingnya, Hyejin. Teman sekelas Subin yang menurutnya paling bisa diandalkan, apalagi dalam hal pria dan cinta, tapi tidak selalu. Ada kalanya dia terlalu overreaction hanya karena seorang pria menatap ke arahnya. Sepertinya Subin telah salah mengandalkan wanita satu ini.

"Subin-a !" panggil Hyejin sambil menepuk-nepuk lengannya pelan. "Subin-a ! Cepatlah bangun ! Kau ingin terus tidur di sini sampai kapan ?"

"Ada apa Hyejin-a?" Subin membuka paksa matanya yang seakan lengket karena terkena suatu cairan yang disebut lem sambil menoleh ke arah asal suara. Dia mengucek matanya pelan dan terbelalak kaget mendapati seluruh bangku di ruang kelas sudah ditinggalkan penghuninya. "Kemana semua orang pergi ? Apa kuliahnya sudah selesai?"

"Dan kau masih akan terus tidur di sini ?" Hyejin mulai mengemasi buku-bukunya yang masih tercecer di atas meja dan memasukkannya ke tas jinjing berwarna navy. Subin tidak menjawab dan hanya merapikan rambutnya yang bergerombol di depan wajah menggunakan jemarinya.

"Cepatlah !" Hyejin buru-buru meraih beberapa buku sastra dan sebuah pena abu-abu di atas meja Subin dan memasukkannya ke dalam tas yang terkulai lemas di sisi Subin. Hyejin merapatkan gerahamnya gemas melihat orang di sampingnya -yang masih sibuk bertarung dengan beberapa helai rambutnya yang susah diatur- lalu segera membantunya merapikan menggunakan jemarinya yang lentik, bahkan sesekali dia mengancam helai rambut itu untuk menurut padanya. Dia berharap Subin menyelesaikannya dengan cepat.

"Kenapa harus buru-buru ?"

"Kelas Jingoo seonbaenim ada di sebelah, kalau tidak cepat-cepat keluar aku tidak bisa bertemu dengannya.” Lengan Subin mulai ditarik kuat menuju pintu kelas. Hyejin memang type fangirl akut yang ada di kampus ini. Dia selalu mencari mangsa pria tampan menggunakan insting berburunya ke setiap sudut kampus, inilah alasan Subin mengandalkannya dalam hal pria. Atau alasan Subin salah mengandalkannya

Subin menguncir kuda rambutnya tinggi sambil terus menatap segerombolan orang yang baru keluar dari arah ruang sebelah. “Mana ?”

"Ada kok. Sebentar lagi pasti keluar." Kaki Hyejin mulai menjijt, gerombolan orang di depannya menghalangi aktivitas meneropongnya. Setelah beberapa menit menunggu, terlihat tiga orang pria berebut keluar ruangan dan membelah belasan orang lainnya yang masih memenuhi jalanan depan. Binar kebahagiaan mulai terpampang di wajah Hyejin saat mendapati salah seorang dari ketiga pria adalah orang yang ditunggu sejak tadi, yang berpostur paling tinggi dengan jacket baseball melekat di tubuhnya. "waa, kerennya." Pandangan Subin diam-diam mengikuti arah mata Hyejin yang berujung pada pria itu, atau bisa disebut ketua gangster itu.

"Kau lihat kan ? Dia benar-benar tampan." pujinya.

"Kau gila ? Dia itu ketua gangster. Dia bisa saja memakanmu." sungut Subin kesal.

"Mana mungkin, pria berwajah manis sepertinya menyakiti seorang gadis, apalagi gadis cantik sepertiku." tambahnya berlagak.

Walaupun berwajah manis seperti bayipun, dia tetap saja ketua gangster. Beribu kalipun ku peringatkan Hyejin tidak akan mendengarkan. pikir Subin.

Subin hanya memutar bola matanya sambil geleng-geleng kepala tidak habis pikir lalu melengos pergi.

Hyejin celingukan mencari sosok Subin di dekatnya. “Subin-a ! Kau harusnya menunggu aku, bagaimana bisa kau pergi meninggalkanku begitu saja.” teriak Hyejin dari kejauhan setelah sadar dirinya ditinggal seorang diri. Subin yang sudah lumayan jauh berjalan, mendengar jelas derap langkah yang tidak terlalu cepat berlari mengekor. Dia tidak sadar Hyejin di belakangnya sedang mati-matian berlari dengan wedges krem kesayangannya.

Hyejin merangkul erat lengan Subin saat dia akhirnya bisa menyejajarkan langkah dengan wanita keras kepala itu. “Kau marah ?” tanya Hyejin dengan napas tersengal. Subin menghentikan langkahnya tidak tega melihat temannya yang hampir kehabisan napas. “Tidak, hanya saja tidak habis pikir. Aku sedang berpikir ulang saat berjalan.” kilah Subin cepat. “Kau menyukainya ? Kalau begitu itu untukmu saja.” Telinga Subin berdenging hebat, dia berharap telah salah mendengar tawaran absurd itu. Dahinya berkerut dan menatap kesal Hyejin yang dengan sabar menunggu jawabannya. “Tidak usah.” tolak Subin sambil kembali melangkahkan kakinya, aliran pernapasan Hyejin sepertinya sudah membaik. “Ya sudah untukku saja, aku akan mencarikan yang lain untukmu.” Subin tersenyum kecut tidak setuju. Dia sudah insyaf akan kekhilafannya mengikuti aliran sesat -fangirling- Hyejin. Jungmin akan mengutuknya menjadi single akut seumur hidup. Subin mendengus, pikirannya menerawang jauh memikirkan bagaimana dia harus menyelamatkan temannya -yang sedang merangkul lengannya manja- itu dari kecanduan fangirling sebelum dia overdosis.

"Subin-a ! Lihat kesana ! Ada pria tampan ! sepertinya aku belum pernah melihat pria itu sebelumnya di kampus." Hyejin menunjuk ke arah seorang pria yang bersandar di tembok koridor utama, satu kakinya ditekuk persis seperti model-model di majalah. Sangat keren. Beberapa kali dia menatap jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya, seperti sedang menunggu sesuatu.

"Aku tidak tertarik." jawab Subin cepat tanpa sedikit pun menoleh ke arah pria yang ditunjuk Hyejin.

Subin merasakan lengannya panas karena ditepuk kuat berkali-kali oleh Hyejin. “Subin-a, pria itu sekarang memandang ke arah kita !” Hyejin mulai menampilkan senyum handalannya untuk membalas senyum pria itu. “Subin-a ! Dia sekarang berjalan ke arah kita !” pukulan Hyejin semakin cepat dan sukses membuat Subin geram.

Berapa kali harus ku bilang aku tidak tertarik pada pria incaranmu lagi. Kata subin dalam hati memperingatkan.

"Hai." sapa pria itu lembut, sepertinya Subin pernah mendengar suara ini sebelumnya, tapi dia tidak ingat dimana dan kapan itu terjadi.

"Hai." jawab Hyejin malu-malu sambil menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga.

Detik pertama. Diam.

Detik kedua. Diam.

Detik ketiga. Diam.

Sampai detik ketiga puluh, mereka hanya bersibaku dengan keheningan hanya untuk menunggu Subin menjawab salam pria itu.

"akk !" pekik Subin lirih saat merasa kakinya terinjak sesuatu. "Subin-a ! seharusnya kau menjawab salam dari orang lain. Tidak baik diam saja." bisik Hyejin pelan.

"Hai." Mata Subin hanya menerawang jauh, sama sekali tidak berminat untuk menoleh ke pria itu. atau bisa disebut pria asing -yang sok-sokan mengenal mereka dan bahkan menyapa, atau itu kegiatan tebar pesona?-. Pikiran-pikiran ngawur mulai berkelebat dalam otaknya.

"Apa-apaan ini ! Kau menjawab salamku seperti itu?" protes pria itu yang lantas membuat Subin mengurungkan niatnya jauh-jauh untuk tetap tidak menoleh. Sebenarnya siapa pria itu ? Berani-beraninya. pikir Subin geram

"Ah ! Minho-ya !" Subin terkesiap melihat pria keren di depannya, yang ternyata teman lamanya -bersama Jungmin dan Jongyeol-. Beberapa detik mulutnya tidak berhenti menganga. Mungkin tidak ada perubahan besar dari pria itu, tapi rasanya semua yang dilihatnya adalah sesuatu yang sangat gres. Maklum sudah lama sekali sejak terakhir kali dia bertemu dengannya, membuatnya sedikit lupa bagaimana tampilannya secara persis. Dia memutuskan mengambil tawaran beasiswa di US setahun yang lalu tidak lama sejak dia kuliah di kampus yang sama dengan Subin bahkan sekelas dengan Jungmin dan Jongyeol. Omong kosong kalau Jungmin dan Jongyeol mengatakan Subin tidak pernah dekat dengan pria lain selain mereka, buktinya Subin malah sangat akrab dengan teman-teman sekelas mereka. Tapi entah mengapa itu tidak berlaku di kelasnya sendiri.

Saking bahagianya Subin langsung memeluk erat pria di hadapannya sambil sedikit berjinjit, tinggi Minho memang lumayan tidak bisa direngkuh Subin dengan sepatu flat yang dikenakannya. “Minho-ya, aku sangat merindukanmu.” ucap Subin di dekat telinga Minho.

"Apa-apaan ini? Tadi dia bilang tidak tertarik, sekarang malah memeluknya." gerutu Hyejin sambil memandang sebal keduanya.

***

"Halo ?" Sapa Joowon setelah menekan tombol handphonenya yang berdering.

"Halo.. Hyeong !" jawab seorang pria dari seberang sana.

Joowon tertegun sesaat sambil mengingat pemilik suara itu. Dia yakin dia mengenalnya, tapi pria itu menggunakan nomer telepon yang tidak dikenali handphonenya.

"Hyeong !" lanjut pria itu agak berteriak, yang membuat Joowon agak tersentak. "Hyeong, kau tidak mengingatku ? Keterlaluan sekali !"

Joowon berhasil mengumpulkan beberapa bagian ingatannya dan mulai yakin siapa pemilik suara itu. Sudah setahun lamanya tidak saling kontak membuat Joowon agak lupa dengan suara adik kelasnya. "Minho-ya ?" tebak Joowon sambil terkekeh puas. "bagaimana kabarmu ? Kau dimana ? Lama sekali kau tidak meneleponku."

"Maaf Hyeong membuatmu khawatir. Aku baik-baik saja." kata Minho bergurau. "Aku sekarang di kampus. Hyeong dimana ? Aku ingin bertemu denganmu."

"Kampus ? Kau di Korea ?"

Minho mengangguk sambil tersenyum walaupun dia sadar Joowon tidak bisa melihatnya. "Iya Hyeong."

"Sejak kapan ? Aku sedang di perpustakaan. Tapi sebentar lagi akan ke ruang musik."

"Aku sampai Korea 2 hari yang lalu. bagaimana kalau kita bertemu di koridor utama? aku tunggu Hyeong."

"Oke. Aku akan ke sana segera. Bye." sambungan telepon terputus tepat saat Joowon menekan tombol merah di layar teleponnya. Dia bergegas membereskan beberapa buku yang dipinjamnya yang masih bertumpuk di atas meja bundar berwarna hitam dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Dalam hitungan menit dia sudah menghilang keluar dari perpustakaan.

Joowon berjalan setengah berlari menyusuri koridor utama sambil menoleh ke kanan kiri mencari sosok seseorang yang sedang menunggunya. Dia menghentikan langkahnya sesaat sambil menata napasnya yang sedikit terengah. Matanya menyisir setiap tempat, tapi dia hanya menemukan beberapa gerombolan mahasiswa lain yang tidak dikenalinya. Minho-anak itu menunggunya di mana ?

Pandangan matanya tersita pada seorang pria tinggi dengan balutan jaket tebal warna abu-abu dan celana jeans putih. Dia tersenyum lega saat akhirnya menemukan adik kelasnya sedang berbincang dengan dua orang gadis. Joowon mengambil langkah menuju tempat keberadaan Minho. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti melihat salah seorang gadis tadi memeluknya. Dia melihat jelas wajah gadis itu, dia sadar mengenalnya. "Gadis itu ? Namanya Subin kan ? Bagaimana dia mengenal Minho ?"

 

Join MovellasFind out what all the buzz is about. Join now to start sharing your creativity and passion
Loading ...