A Tale of First Love


0Likes
3Comments
611Views
AA

1. First Tale

"selesaaii.. wah.. kau cantik sekali.." Jungmin berdecak kagum sambil terus memandangi wanita yang berdiri dihadapannya. Sahabat masa kecilnya. Subin.

”Hey, kau sudah terkenal sekarang. Masa memakai eyeliner saja masih tidak bisa ?” lanjutnya heran sambil terus mengusap-usapkan telunjuk ke kelopak mata Subin. Merapikan bagian-bagian yang terlihat agak berantakan.

"Aku bisa memakai make-up." jawabnya kesal. "Cuma selain eyeliner , entah kenapa tanganku selalu gemetar saat akan mengoleskannya.” Tangan Subin meniru orang yang sedang menggunakan eyeliner.

Subin meraih sebuah cermin di tangan Jungmin. Memandangi terus lengkungan indah di sudut-sudut matanya.yang berakhir dengan garis tipis panjang. Sangat keren. Ini berkat kemahiran sahabatnya itu.

"Untungnya aku mempunyai sahabat sepertimu." canda Subin. Senyumnya mengembang sumringah dan kedua alis matanya terangkat naik.

"HEY ! Aku seorang artis ! Aku tidak bisa membantumu setiap waktu sekarang." Mulut Jungmin mulai mencibir. Dia kesal. Tapi juga khawatir.

"Benar juga !" Kata Subin mengiyakan ucapan Jungmin. "Mungkin aku bisa mempekerjakan seorang tata rias, bagaimana menurutmu ?"

"Bukan itu maksudku .. Kau ini seorang wanita. Wanita harus selalu tampil cantik, kan ?"

"Benarkah ?" Pertanyaan retorik segera keluar dari mulut Subin. Dia tidak ingin mendengar ucapan Jungmin selanjutnya. Tangannya meraih tas di atas meja samping. Merogoh isinya dan mengambil sebuah handphone di dalamnya.

"Jungmin-a ! Bukankah kau dan grupmu tampil juga di acara ini ?" Pertanyaannya memang ditujukan kepada Jungmin, tetapi matanya tetap terpaku pada layar handphonenya. Jari-jarinya menggeser layar handphone ke atas dan ke bawah. Entah apa yang dia liat. Dia hanya berusaha tidak menatap Jungmin untuk saat ini.

Jungmin hanya berdehem sambil terus melihat tingkah sahabatnya yang menurutnya sangat mudah ditebak. Sejak kecil, Subin selalu mengalihkan pandangannya dan tidak berani memandangnya bahkan hanya untuk sepersekian detik jika sedang menyembunyikan sesuatu. "Dia juga." lanjutnya.

"Siapa ?" Subin menjawab singkat. Tetap tidak menatap Jungmin yang  sudah menyondongkan wajah tepat disampingnya. "Joowon Hyung dan Jinho." kata Jungmin agak berbisik. Nada bicaranya berubah.

Subin hanya terdiam membisu. Seketika jantungnya berhenti berdetak ketika mendengar nama yang baginya sangat angker. Nama yang ingin dia lupakan sejak bertahun-tahun lalu. Nama yang pernah membuatnya tidak berhenti berharap pada sebuah batang lapuk. Sungguh sangat bodoh.

Subin tambah menyibukkan dirinya dengan handphone yang masih ada di genggamannya. Seakan kesibukannya itu kini benar-benar tidak bisa mendapat gangguan dari siapapun. Dia mendengar jelas nama yang diucapkan Jungmin. Tapi dia tidak peduli lagi.

"Jungmin-a! dimana Jongyeol ? Aku tidak melihat dia bersamamu dari tadi ?" Subin mulai mengalihkan pembicaran. Jungmin menyadari sahabatnya yang merasa tidak nyaman dengan pembicaraan barusan, memilih untuk ikut tidak membahasnya lagi.

"Jongyeol ? Dia sedang bersama Dio dan Kai !"

"Memangnya kenapa ? Kenapa wajahmu jadi  jutek begitu ? Kau emburu ?" canda Subin sambil mulai tertawa geli.

Jungmin kemudian tersenyum cerah. Dia lega sahabatnya sudah bisa tersenyum lagi. Harapannya selama ini hanyalah, “Semoga Subin bisa hidup dengan bahagia. Tidak masalah dengan siapa”

***

Sorak sorai seluruh penonton dan tamu yang hadir membuncah dan mengantarkan langkah Subin menuju puncak panggung yang dihiasi dengan tebaran lampu laser. Langkahnya agak berat, bukan karena dia tidak menginginkannya. Tetapi dia cukup terkejut mendengar namanya dipanggil beberapa menit yang lalu. Dia benar-benar tidak menyangka ini akan terjadi padanya.

Dia membalikkan badan, dan kini jutaan pasang mata sedang menatap kagum pada dirinya. Badannya dia condongkan ke depan, mendekat ke arah microphone. Sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas, dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Terimakasih untuk semuanya..” Begitulah dia memberanikan diri memulai sambutan.

Dadanya kini terasa sakit. Dia susah bernafas. Bukan karena penyakit atau bajunya yang nge-pas badan. Dia benar-benar bahagia saat ini. Berdiri di hadapan banyak orang yang telah mengapresiasi karya-karyanya. "Terimakasih untuk penghargaan yang luar biasa ini dan untuk seluruh orang yang telah membantu saya selama ini. Saya berjanji akan lebih berusaha keras dan menghasilkan karya terbaik lainnya." Dia mengakhiri ucapannya dengan sedikit menundukkan kepala. Sorak sorai tepuk tangan kembali memenuhi seluruh isi ruangan. Terdengar beberapa teriakan histeris memanggil-manggil namanya.

Salah satu MC acara memegang pundaknya dan mendorongnya berdiri sedikit lebih maju. “Waaa!!!…Kau hebat sekali… Sutradara pendatang baru terbaik dan direktor terbaik 2014 !”

"Di umurnya yang masih sangat muda ini, dia sudah berkarya dan mampu membanggakan kita semua. Filmnya pun tadi mendapat penghargaan Film terbaik 2014. Waaah… " Puji MC yang lainnya sambil beberapa kali menoleh ke arah kami yang berdiri di sampingnya.

"Ah, Terimakasiih.." jawab Subin dengan agak tersipu malu.

"Inilah akhir dari acara kita pada malam hari ini National Movie Award 2014." MC pria berkaca mata yang tadi mendorongnya maju mulai memberikan aba-aba penutupan acara. Semua artis pengisi acara dan pemenang penghargaan mulai memenuhi ruang panggung yang sangat luas. Subin berjalan mundur dan berdiri di samping artis lainnya

"Ya. Terimakasih yang telah menyaksikan acara ini. Dan semoga untuk kedepannya akan ada banyak film berkualitas lagi yang bersaing pada ajang ini." lanjut si MC wanita.

"Saya Yoo Jaesuk" "Dan saya Lee Daehee"

"Sampai jumpa di National Movie Award 2015. Inilah penampilan terakhir - Romance dengan Just You !"

"Siapa ?????? Romance ???" Subin tersentak kaget saat dia mengetahui dia berada satu panggung dengan grup yang populer seantero negeri-Romance. Matanya sibuk menebar pandang ke segala arah mencoba mencari kehadiran seseorang. Terlalu banyak orang, dia tidak bisa melihat secara leluasa.

"Apa yang aku lakukan ???" Katanya menyalahkan diri. Tetapi tetap saja tubuhnya tidak mau menuruti perintah otak. Kakinya mulai berjalan menembus barisan orang di depan. "Dimana dia?? dimana ??"

"Just you, until now is always you ~" Dia mendengar sepenggal lirik yang dia kenal jelas siapa pemilik suara itu. Matanya terus berkeliling.

Langkahnya terhenti saat mendapati orang yang dicarinya sejak tadi sedang berdiri di seberang, di antara kerumunan, sedang menatap ke arahnya. Hatinya kembali sakit, mengingat pria itu di lembaran masa lalunya. Mengingatkan tentang rasa sakitnya cinta pertama.

"Subin !" Panggil seorang pria yang tiba-tiba muncul dan berdiri dihadapannya, menutupi pandangannya. Pria yang menggunakan kostum mirip seperti yang digunakan Jungmin itu, menyapanya dengan senyum manis dihiasi lesung pipi yang dalam.

"Oh, Jinho-a !" Subin mencoba menyapa pria itu, tetapi dia justru mencuri pandang ke seberang, memandang ke arah pria itu lagi. "huh".

"Kenapa ? kau tidak senang bertemu denganku ?" Jinho merasa Subin tidak terlihat senang bertemu dengannya. Sungguh membuatnya khawatir. Khawatir dia membencinya.

"Tidak !" Senyum mulai mengembang di wajah Subin.

Jinho mendekat pada Subin lalu mendekap erat tubuhnya. “Subin, aku benar-benar merindukanmu.” Ucapannya terdengar sangat tulus. "Aku juga." Jawab Subin singkat sambil terus memandang ke arah seberang dari balik bahu Jinho. "Dasar Jahat !" umpatnya dalam hati saat melihat pria tadi asik bercanda dengan seorang wanita.

***

Dap.. dap.. dap . suara hentakan sepatu Jungmin yang beradu keras  dengan lantai ruang make-up menimbulkan suara berisik.  Subin mengerutkan kening, terheran-heran melihat tingkah sahabatnya yang masih saja kekanak-kanakan setelah tidak bertemu dalam waktu yang lama.

"Subin.. Subin.. !!" jerit Jungmin sambil memeluk erat tubuh Subin.

"Jungmin-a ! Bisa kau lepaskan aku ? aku tidak bisa bernafas !" tangan Subin mencoba melepaskan diri dari pelukan Jungmin, yang menurutnya terasa seperti lilitan ular.

"Oh, maaf." Jungmin melepaskan tangannya. Matanya yang berbinar terus menatap lurus ke arah Subin. "Kau sungguh luar biasa !"

"Terimakasih Jungmin-a." Senyum simpul menghiasi wajah Subin. Dia benar-benar sangat bahagia sekarang. Tapi kebahagiaan itu pudar ketika dia mengingat sesuatu yang menganggu pikirannya sejak tadi.

"Kenapa ?" Tanya Jungmin khawatir melihat perubahan raut wajah sahabatnya yang drastis

"itu..waktunya telah tiba, bagaimana ini ?"

"Subin !" Teriak Jongyeol sambil berlari mendekat ke arah Jungmin dan Subin yang masih berdiri berhadapan, dengan raut wajah yang sangat serius.

"10 tahun lalu.. menurutmu, apakah orang itu masih mengingatnya ?" Subin melanjutkan kalimatnya tanpa menyadari kehadiran Jongyeol di sampingnya.

"Kau masih saja mengingatnya ?" saut Jongyeol, syok.

Subin menganggukan kepala, mengiyakan dengan sedikit ragu-ragu.

"Lupakan dia !" wajahnya yang ceria saat tiba tadi sudah musnah. Digantikan dengan wajah serius dan kesal. Seolah ada awan hitam menyelimuti perasaannya. Sebenarnya dia kesini untuk mengucapkan selamat pada sahabatnya. Tapi seketika mengurungkan niatnya itu.

”Ada apa ini ?” Lagi-lagi seseorang sudah berdiri di samping mereka, tanpa disadari.

"Oh, Jinho, Tidak ada apa-apa" Jawab Jongyeol dengan ceria, mencoba menutupi yang sedang mereka bicarakan.

"Hmm.. Subin-a ! Setelah ini kau mau pergi bersamaku ?"

"Baiklah." Subin mengangguk tanda setuju sambil memaksakan tersenyum.

"Kalian berdua bersenang-senanglah, sudah lama sekali aku tidak melihat kalian pergi berdua." Jongyeol menepuk punggung Jinho lalu beranjak pergi. Jungmin juga mengikuti Jongyeol dari belakang.

***

"Kau ingin makan sesuatu ?" Tanya Jinho sambil terus berjalan berdampingan dengan Subin.

"Aku sudah kenyang, mungkin lain kali. Aku sudah makan banyak malam ini. Aku tidak mau perutku meletus" canda Subin sambil tertawa kecil. Candanya berhasil menghilangkan rasa canggung di antara mereka.

"Bagaimana rasanya mendapat penghargaan sehebat itu ?" Jinho menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Subin.

"Sangat senaang, bagaimana denganmu sendiri ? Menjadi artis terkenal dan punya banyak fans?"

"Sangat menyenangkan, tapi juga kadang melelahkan."

Jinho kembali melanjutkan langkahnya, jemarinya yang panjang menyelinap di antara ruang kosong jemari milik Subin. Subin merasakan dengan jelas kehangatan yang mulai membalut telapak tangannya. Dia melihat Jinho di sampingnya tersenyum lembut sambil terus menerawang jauh jalanan malam yang sangat hening. Dalam hati, dia memanggil lirih pria itu dan memohon kepadanya untuk melepas genggaman tangannya. Entah apa yang dipikirkan Subin, tapi itu cukup membuat hatinya meraung kesakitan. Dia tidak bisa menahan perasaan ini lebih lama. Seharusnya pria itu membencinya bukan malah bertingkah seperti ini

Jinho berhasil menjebak senyuman itu di raut wajahnya. Dia kembali merapatkan jemarinya saat Subin dengan perlahan berusaha melepas genggamannya.

"Bisakah seperti ini sedikit lebih lama lagi ?" tanya Jinho yang sukses membuat Subin salah tingkah. Dia tidak ingin Jinho mengiranya menghindar, hanya saja hatinya benar-benar terasa seperti ditumbuk batu besar saat dia menggenggam tangannya sambil tersenyum seperti itu. Subin tahu, pria itu benar-benar tulus.

Langkah Subin dan Jinho tiba-tiba terhenti saat melihat dua orang berjalanan beriringan mendekati mereka. “Kenapa ada dia disini ?” gerutu Subin saat mendapati salah seorang dari mereka adalah pria tadi yang terus dipandanginya saat di atas panggung.

"Joowon hyung!" Panggil Jinho pada pria itu sambil melambaikan tangan.

jangaaaan panggill…!!" pinta Subin dalam hati. Nyatanya dia sudah terlambat. Dia menyadari pandangan Joowon sudah menuju ke arah mereka berdua, lalu mengumpat dalam hati "Matilah aku !

"Oh, Jinho-a ! mau pergi kemana kau ?" tanya teman Joowon yang berjalan bersamanya. Taehyun.

"Oh Subin-a ! Lama tidak bertemu.. Bagaimana kabarmu?" tanyanya setelah mendapati dirinya mengenal wanita yang berdiri di samping Jinho. Bahkan belum sempat memberikan kesempatan pada Jinho untuk menjawab pertanyaan yang diberikannya.

"Sangat baik." jawab Subin singkat. Kepalanya sedikit menunduk, berusaha menghindari tatapan mata Joowon. Dia benar-benar belum siap bertemu dengan Joowon. Tapi Joowon sudah berdiri tepat di depannya. Ini sangat gila !

"Ah, sebentar ! Darimana kalian saling mengenal ? Kalian berkencan ?" Taehyun kembali membanjiri keduanya dengan pertanyaan-pertanyaan -Subin berdoa dalam hati agar pertanyaan seperti itu tidak meluncur dari mulut Taehyun- saat melihat tangan mereka saling menggenggam. Subin tercekat tidak tahu harus menjawab apa, otaknya berpikir keras mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan gila itu. "Apa yang harus ku katakan ? bagaimana ini?" tanyanya berulang-ulang dalam hati.

"Iya, kami berkencan." jawab Jinho mantap sambil mengangkat genggaman tangan kami ke udara. Berusaha menunjukkannya pada mereka. Kepala Subin mendongak mencoba melihat ke arah wajah Jinho. Dia mencoba mengulang kembali ucapan Jinho dalam benaknya perlahan. Dia jelas-jelas tidak salah dengar, apalagi salah mengartikan. Apa dia bercanda ?

"Kami bertemu saat belajar di Universitas yang sama." lanjut Jinho membuat ruang diparu-paru Subin menyempit.

"oh, begitu." Taehyun menganggukkan kepalanya perlahan sambil mencerna kata-kata yang baru saja dia dengar.

"Taehyun-a ! Ayo cepat, kita harus cepat pergi." ajak Joowon sambil menarik lengan Taehyun.

"Sampai bertemu lain kali." lanjut Joowon pamit.

Subin tersenyum ke arah dua pria itu yang mulai berjalan melewatinya. Jantungnya berdetak begitu kencang saat mencium wangi parfum yang sangat familiar menghambur ke wajahnya, saat Joowon melewatinya. “tapi bagaimana bisa Joowon melewatinya dengan ekspresi datar seperti itu?” “Apa aku benar-benar telah dilupakannya?” pikirannya kacau, kepalanya seakan mau pecah.

 

Join MovellasFind out what all the buzz is about. Join now to start sharing your creativity and passion
Loading ...