Black Pearl

Recommended for you, if you want to meet 12 cool wolves ! Inspired by EXO Melon Drama

0Likes
3Comments
606Views
AA

2. Strangers

Hampir tiga minggu sejak Jinju pindah ke sekolah itu. Tapi semakin lama dia mengenal sekolah itu, Jinju semakin merasa asing dan aneh. Terutama dua belas siswa yang menurutnya paling aneh. Seperti cerita yang didengar Jinju dari Cheon-Minjung, mereka siswa-siswa paling populer seantero sekolah. EXO, itu panggilan untuk mereka. Semua anggota EXO selalu diperlakukan bak putra kerajaan oleh para guru, kepala sekolah, apalagi siswa lainnya. Tidak ada siswa yang berani bergaul dengan mereka. "Walau begitu siswa lain termasuk aku tidak pernah mengerti kenapa kami melakukan seperti itu. Guru-guru dan kepala sekolah juga tidak pernah menyinggung asal-usul mereka. Tetapi sepertinya guru-guru memang tidak ada yang tahu tentang itu. Yang jelas, satu-satunya orang yang tahu identitas mereka adalah kepala sekolah. Sepertinya kepala sekolah berusaha menutupi identitas mereka. Kira-kira mereka itu siapa ya ? Mungkin mereka anak kerajaan? atau anak pengusaha kaya? Tapi entah kerajaan atau perusahaan mana ..." Jinju teringat kata-kata Minjung kemarin sore sepulang sekolah.

Kepala Jinju menimbun seribu pertanyaan tak terjawab. Siapa mereka ? Mereka datang darimana ? Dimana mereka tinggal ? ... Dia kemudian merinci kedua belas nama mereka tanpa bersuara. Kai, Chanyeol, Luhan, Lay, Suho, Kris, Xiumin, Baekhyun, Dio, Chen, Sehun, Tao. EXO.

Kai dan Chanyeol. Jinju mengenal mereka karena mereka satu kelas. Sedang yang lainnya pernah dilihatnya saat berkumpul di latar depan pintu masuk. Menurutnya mereka tampak seperti siswa biasa. Bahkan ada beberapa orang dari mereka yang terlihat sangat ramah. Berbeda sekali dengan Kai. Kai memang terlihat sangat dingin dan sombong tapi Jinju tidak pernah melihatnya berlaku buruk pada siswa lain, seperti cerita-cerita pembullyan di sekolah lain. Mereka semua selalu mengisi posisi dua belas besar berurutan di setiap ujian semester. Tidak ada yang salah dengan mereka. Jinju merasa mereka hanya tidak senang bergaul dengan siswa lain. Mungkin ini kesimpulan konyol, entah dari mana Jinju bisa menyimpulkan seperti itu. Jinju hanya membaca dari apa yang dilihatnya.

Jinju melanjutkan langkahnya yang terhenti menuju pintu masuk sekolahnya. Baru beberapa langkah, dia merasa seseorang sedang berjalan di sampingnya dan berusaha menyejajarkan langkahnya. Sebelum Jinju menoleh, seorang pria menyapanya lembut. "Hai, siswa baru." katanya sambil tersenyum ramah. Jinju hilang kata-kata saat menyadari pria yang baru saja menyapanya itu adalah Chen. Jinju hanya tersenyum tipis sambil menutupi kegugupannya. "Kau suka dengan sekolah ini ?" lanjutnya yang hanya ditimpali anggukan ringan Jinju. Jinju merasakan suaranya masih tersendat di ujung tenggorokannya.

"Hey Chen !" teriak seseorang yang membuat Jinju dan Chen menghentikan langkah dan berbalik. Suara Jinju tersendat semakin dalam. Jinju memutar otaknya mencari-cari nama pria yang memanggil Chen barusan. Luhan. Saat berjalan masuk tadi Jinju memang menyadari dua orang sedang bermain basket di dekat taman. Tapi dia tidak sadar mereka adalah Luhan dan Dio.

Tiba-tiba sebuah bola basket melesat cepat setelah Jinju melihat senyuman maut milik Luhan. Bola itu kini menuju ke arahnya. Tanpa pikir panjang, Jinju menangkap bola itu menggunakan tangannya sebelum bola itu menabrak tubuhnya. Luhan melempar pandang ke arahnya sambil tetap tersenyum. Jinju melirik bola di tangannya setelah mengetahui ternyata yang dipandangi Luhan sejak tadi adalah benda itu bukan dirinya. Dia menangkap maksud Luhan untuk segera mengembalikan bola itu. Dengan mengambil ancang-ancang kuat, Jinju melemparkan bola itu tepat ke arah Luhan.

Dukk...

Tiba-tiba terdengar bunyi benturan keras beberapa detik setelah bola itu melayang. Bola itu mendarat di kepala Dio yang berdiri di samping Luhan. "Maaf." teriak Jinju lalu mengigit bibir bawahnya. Suaranya yang tersendat sedari tadi akhirnya meluap. Dia menunggu jawaban pria itu dengan khawatir. Bagaimana kalau pria itu menyimpan dendam terhadapnya ? Masalah besar ! "Tidak apa-apa" jawab Dio dari seberang. Jinju bisa melihat matanya yang besar dan berseri. Jantungnya yang berdegup kencang mulai tenang perlahan. Setidaknya pria itu tidak akan memakannya.

Jinju menundukkan kepala pamit lalu melengos pergi meninggalkan ketiga pria itu. Entah bagaimana jadinya kalau dia terus bersama mereka. Syukurlah dia bisa melarikan diri dengan baik. Jinju mempercepat langkahnya menuju pintu sekolah. Ini masih sangat pagi, tapi dia tidak ingin mengulangi kejadian seperti tadi, bertemu dengan anggota EXO itu. Dia menghentikan langkahnya untuk kesekian kalinya di samping sebuah mobil yang terparkir di halaman sekolah. Tiba-tiba dia teringat buku kimia Minjung yang dipinjamnya. Buku itu seharusnya dikembalikan pada Minjung hari ini. Tapi dia tidak yakin dia sudah memasukannya ke dalam tas. Dia bergegas membuka tasnya dan mulai meneliti benda-benda yang ada di dalamnya. Beberapa kali dia membolak-balik satu persatu buku yang ada di dalam tapi dia tidak menemukan buku tulis berwarna abu-abu yang dicarinya. Semua isi tasnya kini berpindah tempat ke atas kap mobil. Dia mengulangi pencariannya, kali ini lebih teliti. Sebuah buku pelajaran biologi berhasil menyita perhatiannya. Buku itu terasa lebih tebal dari biasanya. Kecurigaannya benar setelah dia menemukan buku abu-abu milik Minjung bersenyembunyi di baliknya. Dia menghembuskan napas panjang sambil mengelus dadanya. Syukurlah.

Jinju memasukkan benda-benda yang tadi dikeluarkannya kembali ke dalam tas. Saat benda terakhir akan meluncur masuk ke dalam tasnya, tangannya terhenti setelah menangkap sosok Kai bersama dengan anggota EXO lainnya, Suho, Chanyeol, Lay, dan Kris. Ah, hari ini hari yang kurang baik sepertinya. Kenapa selalu saja bertemu dengan mereka ?

Jinju tercekat saat pandangan Kai mulai mengarah ke arahnya tidak lama setelah dia mengalihkan pandangan darinya sesaat. Kenapa dia memandangi seperti itu ? Apa ada yang salah ? Semakin lama Kai memandanginya, Jinju semakin salah tingkah. Dia melemparkan pandangannya acak beberapa kali tapi tetap saja tidak bisa membendung keinginannya untuk tidak memandang ke arah Kai. "Anak itu memang yang paling aneh diantara yang lain" gerutu Jinju sambil tanpa sadar kembali memperhatikan Kai.

Angin bertiup dengan kencangnya. Saking kencangnya membuat beberapa batang pohon besar miring hampir roboh. Jinju segera menggunakan lengan kanannya sebagai benteng sebelum debu yang tertiup angin masuk ke retina matanya. Ramalan cuaca hari ini mengatakan akan ada badai yang lumayan besar. Ayahnya juga mewanti-wanti agar dia tetap berhati-hati dan tetap berada di dalam ruangan. Ayahnya benar, cuaca di luar sangat tidak baik.

Angin kencang berhembus sekali lagi, kali ini bahkan lebih besar dari sebelumnya.

Kreek..kreek... Jinju mendengar suara gemeretak tidak jauh darinya. Dia menoleh dan melihat sebuah pohon besar dalam hitungan detik akan menimpa tubuhnya. Dia bahkan tidak mempunyai waktu untuk bisa melarikan diri. Jinju menutup matanya rapat, berharap dirinya bisa terselamatkan. Saking takutnya, Jinju terduduk dang terkulai lemas, menunggu pohon itu menyentuhnya dan menimpanya kasar.

Kreeek.. suara gemeretak terdengar semakin kuat dan jelas di telinganya. Apa tubuhku sudah tertindih benda besar itu? Tapi aku tidak merasa tubuhku sedikitpun tersentuh batang pohon. Jinju perlahan membuka matanya sambil berharap dirinya masih hidup. Hal yang pertama dilihatnya setelah beberapa berkas cahaya kembali masuk ke dalam matanya adalah Kai. Pria itu setengah terduduk di depan dirinya. Sebuah pohon dengan batang yang besar tertahan oleh satu lengannya. Ada batang lain yang terjatuh ke arah yang lain. Sepertinya dua batang itu patah saat berusaha ditahan oleh Kai. Jinju kembali bermain dengan pikirannya sambil berusaha menata napasnya yang masih tersengal. Apa yang dilihatnya ini sungguhan ? Atau dia sedang bermimpi karena pingsan setelah tertimpa pohon itu? Atau.. dia sudah meninggal ?.... Jinju menggelengkan kepalanya cepat mengusir pikiran-pikiran aneh itu lau refleks mencubit lengannya. Dia tidak sedang bermimpi dan dia memang masih hidup, dia merasa sakit karena cubitannya sendiri. Kai menyelamatkannya ? Tapi bagaimana mungkin Kai bisa ...? Bagaimana mungkin ? Jinju menatap Kai dengan wajah bertanya-tanya. Kejadian ini mengingatkannya pada film Twilight. Bella saat itu diselamatkan oleh Edward Cullen saat sebuah mobil hampir menabraknya. Saat itu Bella juga melihat Robert berdiri dalam jarak yang jauh darinya, tapi dalam hitungan detik Edward sudah berada di sampingnya sambil menahan mobil itu sampai mobil itu agak penyok.

Kejadiannya hampir mirip seperti yang sedang dialaminya saat ini. Hanya beda objeknya saja, kalau mereka mobil ini pohon. Tapi tetap saja tidak masuk akal. Kenapa kejadian fiksi di film bisa terjadi dalam dunia nyata? Robert Cullen adalah vampire, tapi tidak mungkin Kai juga vampire. Mungkin dia seorang illusionis ? Tidak mungkin juga !

Kai berbalik menatap Jinju. Tenggorokan Jinju tercekat untuk keseribu kalinya hari ini. Dia bisa melihat tatapan tajam mata Kai. Semakin lama dia memperhatikan ke dalam matanya, Jinju merasa ada yang aneh. Degup jantungnya terdengar jelas di telinganya.

Mata Kai... ada yang aneh dengan matanya. Dia tidak melihat mata itu sebelumnya. Sejak kapan lensa mata Kai berubah menjadi merah gelap? Beberapa menit yang lalu dia melihat lensa matanya masih berwarna agak kecoklatan. Tiba-tiba suatu gambaran jelas terlintas begitu saja di depan matanya. Apa ini ? Tidak mungkin !

xoxoxoxoxoxo

Jinju membuka matanya setelah terlelap selama kurang lebih satu jam. Dia pingsan karena syok dengan kejadian tadi. Kepalanya masih pening. Hanya bayangan samar-samar yang bisa dilihatnya. Beberapa menit kemudian penglihatannya kembali pulih, dia melihat dengan jelas dirinya sedang berada di ruangan dengan pencahayaan yang kurang. Disisinya kanan dan kirinya berdiri tegak bilik-bilik yang berlapiskan kain putih. Tiba-tiba seseorang masuk sambil mengibaskan tirai putih yang mehubungkan ruangannya dengan luar. Jinju segera bangkit dari posisi tidurnya setelah menyadari seseorang yang masuk itu adalah Kai. Kai datang sambil membawa satu cup sedang kopi hangat di tangan kanannya.  Pria itu mendekati Jinju tanpa bersuara sedikitpun. Jinju hanya menatapnya heran, kenapa Kai ada di sini ? Sekelebat kejadian aneh yang dialaminya tadi kembali melintas di otaknya. Kepalanya semakin terasa pening karena otaknya bekerja dua kali lipat memproses kejadian tadi. 

Kai menghentikan langkahnya tepat di samping ranjang Jinju. Tangannya menjulurkan satu cup kopi yang dibawanya. "Ambillah, kau pasti sangat terkejut." Sampai kalimatnya terhenti pandangannya tetap tertuju pada tirai putih tadi yang bergerak indah terhembus angin. Apa dia sedang menghindari menatapku ? pikir Jinju dalam hati seraya menatap lekat mata Kai yang dihiasi bulu mata indahnya. Kai pasti juga merasa tidak nyaman sejak kejadian tadi. Jinju tiba-tiba teringat sesuatu lalu segera mengamati lebih lekat mata Kai. Matanya hitam agak kecokelatan seperti biasa. Tadi jelas-jelas Jinju melihat mata itu berwarna merah, apa dia melepaskan kontak lensanya ?

Jinju meraih cup kopi itu dari tangan Kai lalu mengucapkan terima kasih. "Aku sedang ada di ruang UKS, benar kan ?" Kai mengangguk ringan. "Tadi itu..." Jinju menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan perkataannya. Dia ragu, apa dia boleh menanyakan hal ini sekarang ? Perkataan tadi berhasil membuat fokus mata Kai tertuju padanya. "Tadi itu.. aku melihatmu bersama yang lain, di halaman depan pintu masuk. Tapi kenapa kau bisa ada di situ tiba-tiba ?" Jinju menelan ludahnya setelah menyelesaikan kalimatnya. Dia ingin sekali menelan kembali perkataannya barusan.

"Kau hanya salah lihat. Sudah kau istirahat saja. Aku akan balik ke kelas." Jinju mencoba meminta maaf pada Kai karena membuatnya kembali tidak nyaman, tapi Kai justru sudah melenggang pergi. Tatapan kosong mata Jinju terus menerawang ke arah tirai putih yang bergerak akibat sibakan Kai saat melewatinya. Jinju menghela napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sebenarnya hari apa ini ? Kenapa hari ini terus saja bermasalah dengan EXO ?

xoxoxoxoxoxo

Kai berjalan lemah menyusuri lorong gedung sekolahnya. Di ujung lorong itu terdapat sebuah gedung kecil yang sering digunakan untuk tempat berkumpul anggota-anggota EXO. Sebenarnya pelajaran terakhir sudah berakhir satu jam yang lalu, dia terpaksa berbohong pada Jinju. Dia takut gadis itu semakin khawatir dan penasaran tentang kejadian tadi dan tentang dirinya. Apa gadis itu tadi melihatnya ? mana mungkin ! Tidak ada yang bisa melihatnya kalau tidak ditunjukan. Lalu kenapa tadi dia menatap seperti itu ? Sebenarnya apa yang dilihatnya ?  gumam Kai dalam hati.

Kai meletakkan telapak tangan di depan dadanya. Jantungnya sejak tadi belum bisa berhenti berdetak cepat. Suara detaknya pun semakin terdengar jelas di telinganya. Entah kenapa gadis itu bisa membuatnya menjadi tidak karuan. Baru gadis itu yang membuatnya penasaran, Kai sadar ada sesuatu yang berbeda dengan Jinju. Tapi Kai sendiri belum tahu apa itu. Yang jelas bagi Kai, Jinju bukan gadis biasa. Dia bisa merasakannya sejak pertama Jinju masuk sekolahnya.

Dia mengingat kembali kejadian tadi pagi. Saat pohon itu akan tumbang, tiba-tiba saja tubuhnya tak terkontrol dan berlari cepat ke arah Jinju. Hal seperti ini jarang sekali terjadi, dia jarang melakukan kecerobohan seperti tadi. Kai kembali menimbang-nimbang sikapnya itu. Bagaimana tanggapan anggota lainnya tentang hal ini ? Mereka pasti tadi melihatnya. Dia harus meyakinkan mereka kalau kejadian itu hanya ketidaksengajaan.

Kai sampai di ujung lorong gedung sekolah dan melanjutkan langkahnya menyusuri lorong gedung kecil. Di setiap dindingnya tertempel lambang BWCW "Boys Who Cried Wolf". Belum ada sejarahnya tempat ini dimasuki oleh orang selain anggota EXO. Gedung ini menjadi seperti tempat persembunyian mereka. Setiap jam pelajaran berakhir, mereka selalu berkumpul di tempat ini untuk bermain, mengerjakan tugas, atau hanya mengobrol. Desain interiornya sangat elegan minimalis dengan tulisan-tulisan dan lambang-lambang menghiasi setiap dinding. Ruangan ini mengesankan mereka yang masih muda tetapi elegan. Ada dua lantai di gedung ini, lantai pertama tempat yang sering dipakai mereka untuk bersantai. Sedangkan lantai atasnya, dipakai untuk menyimpan buku-buku mereka. Di sana tersimpan sebuah buku yang menjelaskan semua rahasia mereka, yang pasti sangat ingin diketahui oleh semua orang. Maka dari itu, tempat itu mendapat pengawasan yang sangat ketat.

Kai menjatuhkan dirinya di atas sebuah bangku dekat jendela. Tasnya dia lemparkan ke meja penuh coretan dihadapannya. Dia menyadarkan kepalanya yang agak pening dan mulai memejamkan mata. Sesaat sebelum dia berhasil terlelap, dia mendengar suara derap langkah beberapa orang menghampirinya. "Hey !" panggil seseorang yang terpaksa membuatnya mengurungkan niat untuk beristirahat. Dia melihat Suho dan Chanyeol berdiri di depannya sambil berkacak pinggang. "Ahh.. kenapa mereka harus datang sekarang?" keluh Kai dalam hati.

"Ada apa ?" tanya Kai kemudian.

"Ada apa denganmu ?" jawab Suho sambil tetap dengan tampang curiga.

"Apa maksudmu ?"

"Tidak usah mengelak, tadi kita melihatmu menolong gadis itu." timpal Chanyeol

"Oh itu."

"Kamu tau kan apa peraturannya?" kali ini wajah Suho semakin serius.

"Aku tahu. Tapi tadi itu hanya tidak sengaja. Lagian itu belum melanggar peraturannya."

"Tapi kan..." ucapan Chanyeol terhenti.

"Benar kata Kai, dia belum melanggar peraturan apapun. Tadi itu hanya kecelakaan saja. Kalau aku dalam posisinya aku juga akan menolong gadis itu. Sudahlah tidak usah diperpanjang masalah ini. Yang penting Kai tau batasannya." Chen larut dalam perdebatan ini sesaat setelah melihat Kai kesusahan karena interogasi dari Suho dan Chanyeol.

"Oke. Kamu tetap harus ingat batasannya Kai." kata Suho lalu berbalik dan malangkah menuju sebuah bangku dekat pintu masuk. Chanyeol mengikutinya dari belakang.

Saat kepergian mereka Kai merasa pundaknya ditepuk ringan oleh Chen. "Semua akan baik-baik saja." bisik Chen.

Kai kembali memejamkan matanya. Matanya benar-benar berat dan tidak bisa tertahan lagi. Dalam hitungan menit dirinya sudah terlelap. Setelah bangun, dia ingin melupakan semua kejadian hari ini.

Join MovellasFind out what all the buzz is about. Join now to start sharing your creativity and passion
Loading ...