Black Pearl

Recommended for you, if you want to meet 12 cool wolves ! Inspired by EXO Melon Drama

0Likes
3Comments
608Views
AA

3. Mom's Myth

"Jinju.... Berhati-hatilah !  Kau harus selalu mengingat pesanku." Mata Ibunya mulai menggenang air mata. Jinju melihat Ibunya yang berdiri tidak jauh darinya berdiri dengan wajah yang khawatir.

"Eomma! Sebenarnya ada apa ? Katakan padaku." jerit Jinju sambil terus menatap ke arah bayangan ibunya yang semakin lama semakin menghilang. "Eomma!!!!!!" teriak Jinju sekali lagi berharap Ibunya masih mendengarnya.

"Jinju, Kenapa ?" Jinju terbangun mendengar panggilan Ayahnya. Kini Ayahnya duduk di samping sofa tempat Jinju terbaring. "Kau tidak apa-apa ? Kau mimpi buruk ?" tanya Ayah sekali lagi. 

Jinju mengangguk walau tatapan matanya masih kosong. "Eomma..." gumam Jinju lirih. "Eomma, kenapa mimpi tadi terasa sangat nyata. Atau eomma benar-benar datang menemuiku ? Untuk memperingatkanku sesuatu ? Tapi apa ?

"Jinju sebaiknya kau kembali melanjutkan tidurmu. Ini masih jam 3 malam. Sepertinya kau tertidur di sini saat mengerjakan tugasmu. Tapi tiba-tiba saja kau berteriak. Kau membuatku khawatir." kata Ayah sambil merapihkan buku-buku yang berserakan di atas karpet merah.

"Maaf Ayah. Aku hanya bermimpi buruk tadi,sekarang aku baik-baik saja."

"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kau tidak apa-apa..." Ayah menghentikan aktivitasnya lalu memandang Jinju yang masih mencoba untuk fokus. ".. tadi kau bermimpi tentang Eomma ?"

Jinju mengangguk kecil. Dia ingin menceritakan mimpinya barusan pada Ayah. Tapi itu tidak mungkin. Dia tidak ingin membuat Ayahnya khawatir sekaligus teringat Ibunya. Apa mimpi tadi benar-benar sebuah pesan dari Ibunya ? atau hanya karena dia merindukan Ibunya? Jinju bangkit dari sofa lalu meraih beberapa buku tebal di atas meja yang baru saja dirapihkan Ayahnya. "Ayah, aku ke kamar dulu. Ayah tidurlah."

Ayah mengangguk sambil tersenyum. "Selamat tidur Jinju." Jinju berbalik menoleh Ayahnya. "Selamat tidur juga Ayah."

Sepanjang perjalanan menuju kamar, Jinju kembali teringat wajah Ibunya di dalam mimpi. Dia melihat wajah ketakutan, khawatir, bahkan sampai berlinang air mata. Sebenarnya ada apa dengan Ibu ?

"Eomma... semoga kau baik-baik saja di sana. Aku akan menjaga diriku di sini." gumam Jinju lagi. Lalu melanjutkan langkahnya yang terhenti.

xoxoxoxoxoxo

Teeettt....

Bel pelajaran terakhir terdengar ke seluruh penjuru gedung sekolah. Mr. Goo menutup pelajaran sore itu lalu beranjak keluar yang diikuti pula puluhan siswa lainnya.

Jinju merapihkan beberapa barang yang masih tercecer di atas mejanya ke dalam tas sementara ruang kelas sudah mulai lengang. Hanya tersisa dirinya, Cheon Min-jung, Kai, dan Chanyeol. Kai dan Chanyeol memang langganan keluar kelas paling akhir. Melihat hampir semua siswa sudah meninggalkan kelas, Kai dan Chanyeol beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan keluar. Jinju di tempat duduknya hanya bisa memandangi punggung mereka berdua yang semakin lama semakin menjauh lalu menghilang. Dia menghela napas lalu membuangnya perlahan.

"Kau kenapa ?" tanya Cheon Min-jung yang ternyata dari tadi memperhatikannya.

"Tidak apa-apa."

"Kau tadi mengamati kedua anak itu kan ?" tanyanya lagi sambil mencondongkan wajahnya mendekati Jinju.

"Aku ? Iya kah ? Aku tidak tahu." jawab Jinju ragu-ragu.

"Mungkin aku salah lihat... Kau langsung pulang ?"

"Sepertinya aku meninggalkan sesuatu di perpustakaan. Aku akan mencarinya dulu."

"Oh kalau begitu aku tunggu kau saja di pintu gerbang."

"Sebaiknya kau duluan saja. Aku mungkin akan lama di sana."

"Terserahlah kalau begitu." Minjung tersenyum sebelum berlalu meninggalkan ruang kelas. Jinju hanya terdiam sambil memandangi punggung Minjung yang semakin menjauh. Jinju meraih tasnya lalu bergegas keluar sebelum langkahnya terhenti karena seseorang tiba-tiba melangkah masuk. Mata anak itu mengelilingi seluruh ruangan seperti sedang mencari sesuatu lalu terhenti pada sosok Jinju yang memandanginya seperti orang aneh.

Jinju berbisik dalam hati "Kenapa anak-anak itu senang sekali muncul di depannya ?" lalu mendesah pelan. Dia mengenal betul siapa anak itu walau sebelumnya belum pernah berkenalan langsung. Tidak salah lagi, salah satu anggota EXO, Xiumin.

"Eh, hai." sapanya tiba-tiba. "Aku hanya mencari Kai. Tapi sepertinya dia sudah pergi." katanya menjelaskan setelah melihat wajah tanpa ekspresi Jinju. Dia lalu berusaha menunjukkan senyum termanisnya, yang biasanya bisa membuat gadis-gadis lain jatuh pingsan. Tapi tidak biasa untuk Jinju. Gadis itu justru memandang balik Xiu dengan wajah aneh dan curiga. "Ah kau murid baru itu kan ? Ini pertama kalinya aku bertemu denganmu. Senang bertemu denganmu." Xiu membungkukkan badannya sopan. "Semoga kau senang bersekolah di sini." Xiu menggaruk pundaknya yang tidak gatal, kikuk.

"Senang bertemu denganmu juga. Mohon bantuannya. Saya Jinju" Jinju tersenyum dan membalas salam Xiu dengan membungkukkan badannya sama seperti yang dilakukan Xiu. Setelah dia berpikir keras untuk beberapa menit, dia mungkin salah menilai mereka. Xiu bukan orang yang aneh apalagi jahat. Dia sangat ramah. 

"Kau akan pergi kemana setelah ini ?"

"Aku akan ke perpustakaan. aku meninggalkan barangku disana."

"Barang ? boleh tau apa barangnya ?"

"Gelang, dengan mutiara hitam."

"Oh.." Mata Xiu melebar lalu merogoh saku celananya. "seperti ini ?" tanyanya sambil menunjukkan sebuah gelang berhiaskan mutiara hitam di bagian tengah.

Jinju mengangguk kuat lalu meraih gelang di tangan Xiu. "Terimakasih banyak."

"Sepertinya benda itu sangat berarti. Untung saja aku menyimpannya." kata Xiu sambil bergurau.

"Kau benar." Jinju mendongak dan memandang Xiu yang lebih tinggi darinya.

"Berarti kau akan segera pulang ?" tanya Xiu lagi.

"Iya, kurasa."

"Klau kau punya waktu kau bisa main ke BWCW." Xiu yang melihat alis Jinju terangkat segera melanjutkan kalimatnya. "BWCW itu tempat kami sering berkumpul sepulang sekolah atau kalau ada kelas kosong."

"Tapi... apa tidak apa-apa kalau aku kesana ?" tanya Jinju sambil mengerutkan keningnya dalam. "Maksudku, itu kan tempat kalian berkumpul. Kalau aku kesana aku hanya akan mengganggu kalian."

"Kau ini kan sudah menjadi temanku, Kai dan Chanyeol. Tentu kau tidak mengganggu. Banyak yang ingin berkenalan denganmu juga." Xiu tiba-tiba melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "O..o.. Aku harus segera pergi. Jangan sungkan untuk main ke sana. Aku yang mengundangmu." Xiu menepuk pundak Jinju dan berlari kecil dan menghilang di sebuah koridor. 

xoxoxoxoxoxo

Xiu menggebrak pintu BWCW dengan tangan kirinya dan tangan kanannya memegangi sebagian pinggangnya, sambil mengatur napasnya yang terengah-engah. "Kai ! Aku menemukan bukunya." 

Kai menoleh seketika mendengar suara Xiumin dari depan pintu. "Hei jangan mengatakannya keras-keras." katanya sambil meletakkan telunjuknya di depan bibirnya sendiri. Kai bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekati Xiu yang segera meraih sebuah buku dalam tasnya. Kai lalu meraih buku hitam super tebal yang baru saja diambil dari tas Xiu.

"Kenapa tiba-tiba kau ingin membaca buku itu?" tanya Xiu sambil membuntuti Kai.

"Tidak ada apa-apa. Hanya tiba-tiba ingin membaca dongeng sebelum tidur." Kai mulai membuka buku itu. Dia bisa melihat buku super tebal itu berisi ribuan kumpulan kertas yang sudah menguning karena usianya yang sudah sangat tua. Dan dia tahu buku itu tidak mungkin sekedar dongeng sebelum tidur.

"Kau bercanda ?" Xiu menjatuhkan dirinya di samping Kai. Dia mendekati Kai lalu berbisik lirih. "Atau mungkin karena anak pindahan itu ? Jinju ?"

Kai terperangah sesaat lalu segera mencoba bersikap normal. "Mana mungkin."

"kau tidak bisa membohongiku. Aku awalnya juga percaya cerita itu sudah berakhir lama. Tapi mungkin aku salah." Kai menoleh cepat ke arah Xiu dengan wajah heran. "Aku jelas-jelas tadi langsung melihat matanya. Matanya yang kelam bersinar seperti mutiara hitam. Berbeda dengan manusia biasanya. Dan aku juga tidak pernah tahu ada contact lens dengan gaya seperti itu sebelumnya. Yang kutahu matanya sangat berbeda."

"Jadi kau sudah menyadarinya juga ? Awalnya aku merasa sangat aneh ketika berada di dekatnya. Saat Kecelakaan waktu itu, aku juga melihat langsung ke matanya. Bahkan aku bisa melihat bayangan mataku berwarna merah. Aku tidak percaya bahwa keturunan black pearl itu masih ada. Aku kira mereka sudah musnah. Aku rasa aku juga salah. Kalau itu benar, dia dalam bahaya besar."

"Kau benar. Tapi apa kau pikir, seluruh petinggi kerajaan sudah mengetahui ini semua ?"

"Aku tidak tahu. Tapi selama anggota EXO belum mengetahuinya, apalagi Suho dia masih aman. Sepertinya baru beberapa orang yang pernah melihatnya tapi belum menyadarinya. Jangan sampai Suho dan anggota yang dekat dengannya menyadari ini. Jadi, kita harus menyembunyikan rahasia ini."

Xiu menganggukkan kepalanya mantap. "Aku mengerti."

xoxoxoxoxoxo

"Aku pulang." Jinju melepaskan sepatunya dan mengenakan sandalnya.

Jinju memasuki ruang keluarga dan melihat ayahnya sedang sibuk dengan setumpuk buku yang belum sempat dirapihkan semenjak pindah rumah. Dia meletakkan tasnya di atas sofa lalu mendekati ayahnya. Dia meraih beberapa buku dan mulai menatanya di dalam sebuah lemari buku yang terbuat dari kayu cokelat tua. Sebelum dia mengambil buku lainnya ayahnya menghentikannya.

"Jinju, kau pasti lelah. kau istirahat saja."

"Ayah juga pasti lelah sudah kerja seharian dan sekarang harus menata tumpukan buku-buku berat ini."

"Terserah kau saja, Jinju. Kau memang anak keras kepala." kata Ayah sambil mengusap pelan kepala Jinju.

Jinju mengambil satu tumpuk buku lalu terhenti saat melihat buku yang ada pada bagian paling atas. Buku itu sangat tidak asing untuk Jinju. Buku itu mengingatkannya pada mendiang Ibunya. Kemudian dia menyingkirkan buku itu lalu menyimpannya di atas tasnya. Dan segera melanjutkan menata buku-buku lain.

"Ayah, aku ke kamar dulu ya.. " kata Jinju sesaat setelah semua buku telah tertata rapi dalam lemari.

"Terimakasih Jinju, istirahatlah."

"Ayah juga istirahatlah, Jinju masuk dulu." Jinju tersenyum sebelum dia meninggalkan Ayahnya.

xoxoxoxoxoxo

Awal musim dingin tahun lalu, Jinju dan Ibunya menghabiskan waktu berdua sambil menonton drama kesukaan mereka. Ibu menyesap kopinya lalu meraih sebuah buku di dalam rak yang tergantung di ruang keluarga.

Jinju menyipitkan matanya. "Itu buku apa Eomma ?"

"Ini buku dongeng.. Kau ingin aku membacakannya untukmu?" kata Ibunya sambil terkekeh geli.

"Eomma, kau sedang mengejekku ? Kau selalu menceritakannya setiap malam natal sejak aku masuk SD, bahkan sudah teringat jelas di kepalaku. Jika mata seseorang berubah menjadi merah berarti dia Wolf dan aku harus menghindarinya, betul kan ? Mungkin saja matanya sedang terkena penyakit apalah makanya berubah merah, kenapa pasti dia seorang Wolf Eomma ?" gerutu Jinju.

"Hahaha kau mengingatnya dengan baik." kata Ibunya sambil tertawa. Lalu dia melempar pandangannya jauh keluar jendela. "Kau memang harus mengingatnya dengan jelas." kata Ibunya parau. "Jangan pernah mendekatinya"

"Eomma, Berhentilah hahahha!" Jinju memaksakan tawanya. Berharap situasi menjadi lebih tenang. Baginya situasi seperti ini terlalu serius hanya untuk membicarakan dongeng yang tidak pernah diketahui kebenarannya. "Eomma tidak bisakah kita membaca buku yang lain saja ?."

"Haruskah ?" Ibu Jinju tersenyum lalu beranjak untuk meletakkan kembali buku itu ke dalam rak. Kemudian meraih buku lainnya.

xoxoxoxoxoxo

Jinju mengetuk meja keras sampai menimbulkan bunyi gemeretak. Otaknya bekerja keras sambil membaca tulisan besar di sampul buku tua merah  di hadapannya perlahan "Wolf's History" lalu mendengus pelan. Dia bahkan belum pernah membaca judul buku itu walau Ibunya sudah membacakannya berkali-kali. Dia tidak pernah melihat buku itu setelah terakhir kali Ibunya menawarkan membacakan tapi ditolak olehnya. Atau mungkin ibunya sengaja menyembunyikannya ? Kalau iya, memang kenapa ?

Sekarang benda itu tepat berada di depannya. Bayangannya tergambar jelas dimatanya dan berputar-putar dalam pikirannya. Apa yang spesial dengan buku ini ? Buku apa ini sebenarnya ? Kalau hanya dongeng biasa, kenapa Ibunya bertingkah seperti itu ? Kenapa Ibunya selalu menceritakan buku ini ? Bukan buku yang lain ? Atau Ibunya percaya kalau Wolf itu ada ? Tapi bagaimana mungkin ? Bukankah Wolf hanya muncul dalam novel atau karangan ? Lalu dalam mimpi itu? Sebenarnya apa yang ditakutkan Ibunya ?

Pikiran Jinju terhenti pada perkataan Ibunya "Ketika kau melihat mata seseorang sangat dalam dan tiba-tiba mata orang itu berubah menjadi merah gelap, dia adalah Wolf." Sebenarnya bukan kali ini dia mengingat kata-kata itu. Pada saat itu, saat seseorang menyelamatkannya. Dia mendapati mata orang itu berubah. Tanpa dia sadari dia langsung teringat kata-kata itu. Benar, dia Kai. Kai memang dari awal terlihat seperti orang aneh. Tidak mudah bergaul dengan anak-anak lain di sekolah. Tapi apa mungkin hanya gara-gara itu, Kai ternyata... . Jinju menggeleng kepalanya keras sambil mengutuk perkataannya sendiri. Dia sudah terlalu terbawa suasana. Dia tidak bisa berpikir pada saat-saat seperti ini. Segera dia menutup kembali buku itu. "Tidak ada hal seperti ini. Ini terlalu mustahil." Jinju bangkit dan segera akan berderap ke arah tempat tidurnya tetapi tangannya tidak sengaja terayun dan menjatuhkan sesuatu.

Brukk...

Buku merah tua sudah tergeletak di lantai dalam keadaan terbuka. Kemudian Jinju merendahkan badannya dan meraih buku itu. Dia membaca sekilas halaman yang terbuka secara acak tadi. "Jika Wolf jatuh cinta pada manusia, dia akan menjadi lemah...."

"Apa-apaan ini ???" kata Jinju kesal sambil menjatuhkan buku itu ke atas meja dengan kasar. Buku itu memang sangat tidak masuk akal bagi Jinju tapi dalam dirinya dia ingin sekali mempercayainya. Dan itu yang membuatnya kesal pada dirinya sendiri.

Join MovellasFind out what all the buzz is about. Join now to start sharing your creativity and passion
Loading ...