Black Pearl

Recommended for you, if you want to meet 12 cool wolves ! Inspired by EXO Melon Drama

0Likes
3Comments
601Views
AA

1. Hartville Private High School

Angin musim panas bertiup semilir mengusap lembut kulit Jinju. Perlahan Jinju membuka kedua matanya setelah merasa seberkas cahaya menyelip masuk di antara kelopak matanya. Pandangan matanya masih agak kabur tapi dia dapat melihat Ayahnya berdiri di depan jendela kamar yang sudah terbuka lebar.

"Ahhh, Ayaah.." erang Jinju sambil mengusap matanya. Jinju melakukan peregangan ringan lalu mulai bangkit dari posisi tidurnya. Tidurnya tadi malam terasa masih belum cukup. Dia hanya terlelap selama 2 jam. Berada di tempat dan suasana asing membuatnya susah memejamkan mata. Selalu ada hal-hal aneh yang terlintas di pikirannya dan membuatnya cemas, dia cemas rumah barunya itu menyembunyikan kisah seram, seperti hantu. Jinju tidak pernah tahan dengan hal-hal seperti itu. Tadi malam bayangan ibunya juga terus menyesakkan pikirannya, sehingga dia tidak bisa memejamkan mata barang sejenak.

Ibu Jinju, Yang Ji-hye, meninggal seminggu yang lalu. Itulah sebabnya dia dan Ayahnya memilih pindah rumah ke sebuah desa kecil di pinggiran kota. Mereka tidak ingin terus dibayang-bayangi kesedihan ditinggal orang yang mereka cintai itu. Mereka sekarang menempati rumah yang dulunya milik kerabat jauh Ibunya, dan sekarang telah dibeli Ayahnya. Rumah ini mulai ditempati mereka sejak dua hari yang lalu.

Song Jinju menerawang jauh ke arah luar. Dia bisa melihat pohon-pohon mulai ditumbuhi daun-daun hijau, Bunga-bunga juga mekar sempurna dengan warna yang beragam. Dia sangat takjub dengan desa yang ditinggalinya sekarang, desa ini banyak menyimpan hal yang sangat indah, seperti tumbuhan-tumbuhan itu. Dia tidak dapat menemui hal seperti ini di kotanya tinggal dulu. Terbesit di pikirannya, andai Ibunya bisa melihat keindahan ini bersamanya. Dia selalu ingat Ibunya sangat menyukai bunga yang bermekaran di musim panas.

"Jinju cepatlah ! Ini hari pertamamu masuk ke sekolah baru. Kau tidak boleh terlambat." kata Ayah mendapati anak gadisnya hanya tertegun sambil melempar pandang ke luar, kemudian melangkah perlahan menuju pintu kamar. Seketika langkahnya terhenti saat melihat satu setel seragam tersandar di kursi belajar.

"Jinju, itu seragammu. Mandi dan segera pakailah" pesan Ayah sambil menunjuk ke arah seragam itu. Jinju mengikuti arah yang ditunjuk Ayah dan segera mengangguk pelan. "Ya sudah Ayah akan siapkan sarapan untuk mu." Ayah kemudian melanjutkan langkahnya menuju dapur.

Setelah kepergian Ayahnya, Jinju segera bangkit dari kasur empuknya dan berjalan menuju kamar mandi sambil sesekali menguap dan menahan rasa kantuk yang masih membelenggunya.

xoxoxoxoxoxo

Jinju memasuki kamarnya kembali setelah selesai mandi. Dia menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya yang masih basah sambil berjalan mendekati seragamnya yang masih terkulai di kursi belajar. Seketika dia terkesiap saat melihat seragam itu dalam jarak yang dekat.

Kemeja putih panjang dengan dasi merah gelap bermotif garis putih,

Setelan jas warna hijau zamrud dengan corak kotak-kotak yang membuatnya tampak sangat elegan,

Rok rimpel pendek warna cokelat muda.

Jemari Jinju mulai lincah menyentuh seragamnya. Dia bisa merasakan sentuhan lembut dari kain yang melintasi jemarinya. Ini jelas bukan seragam biasa, seperti jahitan tangan seorang penjahit terkenal. Apa ini seragam sekolah privat bergengsi seperti yang ada di kota besar? Itu artinya sekolah barunya adalah sekolah elit yang mahal. Jinju mulai tidak habis pikir kenapa Ayahnya menghabiskan uang hanya untuk menyekolahkannya di sekolah seperti itu. Sekolahnya yang dulu hanya sekolah biasa, tidak se-special yang satu ini. Matanya terhenti pada sebuah logo bertuliskan H di bawah plat namanya. Dia sangat yakin, sekolah barunya bukan sekolah biasa.

xoxoxoxoxoxo

Jinju menjatuhkan dirinya di kursi sambil sibuk mengikat rambutnya tinggi. Di depannya kini tersaji beberapa potong kimbap yang terlihat sangat lezat. Selera makannya yang sangat besar kini sudah tidak tertahan lagi. Satu potong kimbap sudah berhasil memenuhi ruang mulutnya dan satu potong lainnya sudah bersiap menyusul masuk. “Makannya pelan-pelan Jinju...” Ayah tertawa kecil melihat tingkah Jinju yang masih kekanak-kanakan di umurnya yang sudah 18 tahun. Jinju yang mendengar nasihat Ayah hanya bisa ikut tertawa kecil. Tangannya meraih teko kecil di dekatnya lalu menuangkannya di gelas Ayah yang mulai terlihat kosong. Jinju teringat dengan masalah sekolahnya. Dia harus menanyakan kenapa Ayahnya menyekolahkannya di sana.

“Ayah?” Panggil Jinju ragu-ragu. Ayah menyeruput teh hangatnya lalu menatap Jinju seraya menampakkan kerutan-kerutan di dahinya. “Ayah, soal seragamku...”. lanjut Jinju masih dengan nada yang ragu-ragu. 

“Oh ya, kau sangat cantik dengan seragam itu.” puji Ayah seraya membenahi dasinya yang agak miring. "Makasih yah, tapi bukan soal itu. mmm...” Ayah mulai menyimak kata-kata Jinju, dia yakin putrinya ingin mengatakan sesuatu yang penting. “Kenapa ? Kau tidak suka ?” tanya Ayah khawatir. “Bukan yah, Aku sangat menyukainya. Tapi.... apa Ayah tidak terlalu berlebihan menyekolahkanku di sekolah elite seperti ini ? Lihat saja seragamku. Ini pasti sekolah mahal." tanya Jinju panjang lebar sambil menunjuk-nunjuk seragamnya.

 "Hahahahaha.." Ayah hanya tertawa menimpali celotehan Jinju. "Awalnya Ayah juga mengira sekolah itu sekolah privat yang sangat bergengsi, tapi memang begitu kenyataannya. Tetapi tidak terlalu mahal, bahkan tidak jauh berbeda dengan sekolahmu yang lama. Ayah sendiri bingung, kenapa ada sekolah sehebat ini tetapi sangat terjangkau." Jinju mengangkat sebelah alisnya. "Mana ada hal seperti itu, yah ? Jangan bohong deh!" sungut Jinju. "Benar Jinju ! Ayah tidak sedang berbohong. Semoga kau betah di sekolah barumu.” kata Ayah sambil mengusap lembut kepala anak perempuannya itu.

Jawaban Ayah barusan justru memperbesar rasa penasaran Jinju tentang sekolah itu. Seribu keraguan kemudian menyeruak dan mengganggu pikirannya.  

Mana mungkin ada sekolah seperti itu ? Itu hanya ada di dunia dongeng. Tidak ! Di dunia dongeng pun tidak ada yang seperti itu.

xoxoxoxoxoxo

Deru suara mesin mobil seketika terhenti di depan gerbang dengan papan nama besar bertuliskan Hartville Private High School. 

"Ini sekolah barumu Jinju." kata Ayah dengan wajah yang berseri. Dia berharap putrinya tidak kecewa dengan sekolah pilihannya. "Bagaimana ?" tanya Ayah ragu-ragu. Dia melihat putrinya hanya mengamati sekeliling tanpa berkomentar. "Kau tidak suka ?"

Seketika dia melihat gelengan cepat kepala Jinju. Senyumnya mengembang, lega sekali rasanya, Jinju menyukai sekolah baru-pilihannya itu. Sekolah ini memang sangat prestigious tapi dia sendiri heran kenapa ada sekolah seperti ini di desa kecil dan biayanyapun tidak jauh dari sekolah negeri lainnya. Dan sepertinya sekolah ini tidak banyak menerima murid, apalagi murid dari luar kota.

Syukurlah dia menemukan sekolah ini, berkat bantuan dari warga sekitar dan tetangga-tetangga barunya. Sekolah ini satu-satunya yang ada di desa dan hanya berjarak 500 meter dari kediaman mereka. Tapi yang mengganggu pikirannya sejak kemarin, hanya segelintir warga sekitar yang menyekolahkan anak mereka di sekolah itu. Mereka lebih banyak memilih menyekolahkan anak mereka ke luar kota dibanding ke sekolah itu. Ketika dia menanyakan alasan mereka, mereka selalu mengalihkan pembicaraan atau malah melengos pergi. Mereka seperti menyembunyikan sesuatu.

Dia sendiri tidak menemukan hal aneh dari sekolah itu saat mendaftarkan Jinju. Murid-muridnya sama seperti murid lainnya, mereka justru terlihat sangat berkelas. Guru-guru, karyawan dan kepala sekolahnya pun sangat ramah. Mereka menerima kedatangannya dengan sangat baik. Tidak ada yang salah dengan sekolah ini ! Mungkin ini semacam culture-shock, pengalaman pertama pindah ke tempat baru di sebuah desa kecil.

xoxoxoxoxoxo

Jinju mengamati ekspresi Ayahnya lekat-lekat. Tangan Jinju sudah meraih pintu mobil dan bersiap membukanya tapi tiba-tiba terhenti saat melihat Ayahnya tertegun, seperti sedang berpikir keras. "Ayah !" panggil Jinju yang agak membuat Ayahnya sedikit terperanjat dan bangun dari lamunannya. "Ayah ngga papa kan ?" tanya Jinju khawatir. Seberkas senyuman tersirat di wajah Ayahnya. Jinju menangkap bahasa tubuh Ayah yang berusaha meyakinkan dirinya kalau Ayahnya baik-baik saja. "Aku berangkat sekolah dulu ya yah." pamit Jinju sebelum melompat keluar mobil. "Bersenang-senanglah !" seru Ayahnya dari dalam mobil. Jinju mengangkat sudut-sudut bibirnya dan menampilkan senyum terbaiknya. Dia tidak ingin membuat Ayahnya khawatir. "Iya yah." jawab Jinju sambil melambaikan tangan pada mobil yang segera berlalu.

Beberapa saat dia tertegun di depan gerbang dan kembali membaca perlahan kalimat yang tertulis di papan. Hartville Private High School. 

Dia mengerutkan keningnya dalam dan mencoba mengingat seluruh nama sekolah yang pernah didengarnya. Nama sekolah seperti itu sedikit asing di Korea. Mungkin nama itu lebih cocok di daratan Eropa bukan di Asia seperti ini. Sebenarnya sekolah macam apa ini ?

Kakinya mulai berjalan melewati gerbang besar itu. Kepalanya tak henti berpaling ke kanan kiri, mengamati setiap jengkal lingkungan sekolah barunya. Dia tidak begitu menjumpai banyak murid yang melintas. Bahkan menurutnya sangat sedikit untuk ukuran sekolah sekeren ini. Kini pandangan Jinju tersita pada bangunan besar ala Eropa yang ada di depannya.

"Wooow." gumamnya takjub. Desain eksterior bangunan ini benar-benar ala Eropa. Taman dengan dikelilingi batu-batu ukuran besar yang saling bertumpuk, air mancur tepat di tengah-tengahnya. Ada satu patung logam berdiri tegak menghiasi lajur masuk ke dalam bangunan. Dan ... bangunan intinya ! terlihat megah seperti sebuah cathedral. Jinju memandangi bangunan ini dengan sangat teliti dari atas sampain bawah. Menurutnya, bangunan ini hampir mirip seperti.... sekolah Hoghwarts-nya Harry Potter. Jinju berkali-kali menggelengkan kepalanya dan mendecakkan lidah, tanda kekagumannya pada sekolah barunya. Kemudian dia teringat pelajaran pertama akan dimulai jam 9 dan sekarang jam 9 kurang 10 menit. Dia harus ke ruang guru terlebih dahulu, untuk menyelesaikan beberapa dokumen pindahannya yang masih kurang. Dia lekas mengambil langkah seribu melintasi beberapa anak tangga dan memasuki pintu utama bangunan itu.

xoxoxoxoxoxo

"Hai, Saya Song Jinju, dari Seoul. Senang bertemu dengan kalian. Mohon bantuanya." ucap Jinju sebelum menundukkan kepalanya. Jinju bisa melihat beberapa siswa memandangnya aneh lalu saling berbisik. Tubuhnya serasa menegang, dia tidak nyaman dengan situasi seperti ini, menjadi objek perhatian. Jinju mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, ternyata bagian dalam ruang kelasnya tidak jauh berbeda dengan sekolah lainnya. Dia sempat berpikir kalau ruang kelasnya akan memajang benda seperti tongkat sihir atau sapu terbang, seperti kepunyaan Harry Potter. Seketika pandangannya terhenti pada siswa laki-laki yang duduk di bangku paling pojok belakang. Dia merasa siswa itu mengamatinya serius sejak tadi. Tapi ketika pandangan mereka bertemu, dia justru membuang pandangannya acak. Siswa itu kini asik memainkan pulpen hitam menggunakan jemarinya, tapi tatapannya kosong. Jinju yakin pikiran siswa itu tidak sedang di sini.

Jinju melangkah ragu menuju bangku kosong di depan siswa tadi setelah gurunya mempersilakannya duduk di satu-satunya bangku kosong di kelas itu. Tanpa berkata apapun Jinju langsung menjatuhkan dirinya di atas bangku hitam lalu menggantungkan tasnya disisi meja.

"Song Jinju !" panggil seseorang yang duduk di seberangnya. Jinju menoleh dan mendapati seorang siswa perempuan sedang mengulurkan tangannya dengan mata yang berseri-seri. "Aku Cheon Min-jung". Jinju segera membalas salam perempuan itu dan tersenyum ramah.

Perhatiannya kini kembali pada Ms. Cha, guru biologinya yang sedang berdiri di depan sambil menyampaikan pengantar untuk materi baru. Ini semester baru, jadi Jinju percaya diri dapat mengikuti pelajaran di sekolah baru.

Jinju mulai merogoh-rogoh ke dalam tas hendak mengambil sebuah buku tebal berwarna cokelat miliknya. Tanpa sengaja, sebuah pena hitam terjatuh saat Jinju mengeluarkan bukunya, lalu menggelinding cepat ke belakang bangkunya. Segera Jinju berbalik dan membungkukan badannya agar mampu meraih penanya itu. Tapi pena itu tetap menggelinding dan terhenti tepat di bawah sepatu seseorang. Jinju terus mengulurkan tangannya sepanjang mungkin tetapi usahanya tetap saja tidak berhasil. Penanya terlalu jauh dari jangkauan tangannya. Jinju menegakkan kembali badannya lalu menatap siswa laki-laki tadi sedang memperhatikan Ms. Cha tanpa bergerak sedikit pun. Jinju mencuri pandangan ke plat nama siswa itu yang tertempel di seragam. Kai. “Maaf.. Kai?" panggil Jinju ragu, perhatian Kai kini beralih pada Jinju, Jinju tersenyum kecil menyadari usahanya berhasil lalu kembali melanjutkan kalimatnya sebelum perhatian Kai beralih. "Bisa aku minta tolong ambilkan penaku yang terjatuh di bawah sepatumu?” pinta Jinju dengan suara lirih karena takut mengganggu anak-anak lainnya. 

Tanpa berpikir lama, Kai mulai membungkukan badannya. Beberapa detik kemudian, Kai mengulurkan tangannya yang menggenggam sebuah pena hitam dan segera saja disambar Jinju. "Terimakasih. Senang mengenalmu Kai." ucapnya sambil tersenyum manis berharap Kai mau berteman dengannya. Jinju melihat lensa mata hitam milik Kai menatapnya lekat. Sepersekian detik Jinju hanya tertegun seperti terhipnotis benda itu. Tatapan matanya benar-benar tajam, tapi harus diakui Jinju menyukainya. Jinju kembali memperhatikan Kai yang ternyata sudah kembali berkonsentrasi pada pelajaran yang sedang berlangsung.

Apa tadi pria itu membalas senyumku ? Sombong sekali, senyum pun tidak ! Pria macam apa dia ! Aku tidak ingin berteman dengan orang seperti itu.

Jinju memutar matanya kemudian berbalik memunggungi Kai.

Join MovellasFind out what all the buzz is about. Join now to start sharing your creativity and passion
Loading ...